Penggalian Data Kualitatif

Selama kurang lebih dua minggu, saya meminta mahasiswa peserta mata kuliah Penelitian Kualitatif di S1 untuk belajar tentang teknik penggalian data kualitatif dengan melakukannya secara langsung. Mereka saya minta melakukan wawancara pada 1 partisipan saja, dan saat pertemuan di kelas Selasa kemarin kami mendiskusikan pengalaman apa saja yang sudah mereka peroleh.

Nano-nano, seru, tapi semua kompak menyatakan bahwa melakukan wawancara untuk menggali data secara mendalam itu sungguh tidak mudah. Itu memang benar, dan saya senang mereka menyimpulkannya dari pengalaman sendiri. Meski tak semua berhasil maksimal dalam mewawancara, tapi saya yakin mereka telah belajar sesuatu dengan melakukannya.

Ada yang partisipannya sangat irit bicara, ada yang selalu menghindari kontak mata dan tidak mau melepas kacamata hitam selama sesi wawancara, ada yang banyak bicara tapi ngelantur kemana-mana, ada yang awalnya menyatakan bersedia diwawancara tapi pada akhirnya selalu tampak menghindar untuk ditemui, dan sebagainya, dan sebagainya. Saya mencoba menyimak pengalaman mereka satu per satu, lalu memberikan umpan balik terhadap kekurang-berhasilan proses yang telah dilakukan.

Evaluasi Penggalian Data

Pertama, sejumlah persoalan terjadi karena kegagalan dalam melakukan pendekatan ke partisipan. Mereka datang dengan membawa identitasnya sebagai seorang mahasiswa dan peneliti yang mencari ‘subjek’, sedemikian rupa sehingga yang terjadi justru semakin mempertebal jarak antara dirinya dengan partisipan.

“Pak, saya mahasiswa psikologi, mau tanya-tanya Bapak buat penelitian. Bersedia nggak Pak?”
“Masnya masih mau jadi subjek saya nggak? Soalnya waktu pengumpulannya mepet Mas..”

Dua contoh itu sekilas biasa saja ya? Tapi hal yang biasa itu bisa menjadi persoalan terkait beberapa hal. Tidak semua orang berpersepsi positif terhadap kata “penelitian”, pun tidak semua orang merasa nyaman dengan kata “subjek”. Apalagi kalau topik yang akan ditanyakan menyangkut isu yang sensitif. Peneliti kualitatif semestinya datang kepada partisipan dengan penuh penghargaan, penuh respek dan keinginan untuk belajar dari pengalaman mereka, tanpa terburu-buru waktu sehingga terkesan memaksa.

Apapun latar belakang partisipan, ia adalah guru yang pengalamannya adalah sebuah informasi penting, yang membantu peneliti lebih memahami realitas yang ada di sekelilingnya. Karena itu bagaimana menyampaikan maksud peneliti di awal pertemuan dengan partisipan perlu dipikirkan dengan baik.

Kedua, terkait tempat wawancara. Beberapa mahasiswa masih cenderung mendahulukan kemudahan dan kepraktisan untuk dirinya sendiri. Wawancara di lokasi terdekat dengan kampus atau tempat tinggal peneliti lebih diutamakan daripada mendatangi partisipan di tempatnya berada. Hal ini sedikit banyak berpengaruh terhadap kenyamanan partisipan. Akibatnya, ada yang kemudian menjawab pertanyaan sekenanya agar cepat selesai. Beruntung, sebagian yang mengalami ini langsung memperoleh kesempatan untuk melakukan wawancara kedua di tempat partisipan. Dan hasil wawancara tersebut memang sangat berbeda dari yang dilakukan sebelumnya. Lebih kaya cerita, padat dengan informasi yang dibutuhkan, dan di kelas mahasiswa dapat langsung berbagi, menceritakan pengalaman yang diperoleh kepada teman yang lain.

Ketiga, sikap peneliti selama penggalian data. Bagian ini terdeteksi saat saya mencermati verbatim yang dibuat oleh salah satu mahasiswa, yang percakapannya selain pendek-pendek juga terasa sangat formal. Penasaran, saya bertanya kepada yang bersangkutan tentang bagaimana proses wawancara tersebut dilakukan. Ternyata ia menerjemahkan keharusan untuk menghormati partisipan, mendatangi partisipan dengan sikap yang baik itu sebagai satu bentuk pendekatan yang harus sangat formal. Akhirnya selama proses wawancara yang terjadi justru situasi yang tidak natural: Bahasa yang kaku baik dari peneliti maupun partisipan sendiri, panggilan yang tidak biasa sehingga membuat partisipan merasa asing, dan cara bertanya yang terpaku pedoman sehingga lebih mirip sebagai proses interogasi. Nah, silakan dibayangkan, data seperti apa yang akan dihasilkan oleh wawancara yang seperti ini 🙂

Keempat, pertanyaan yang tidak netral, mengarahkan jawaban sesuai persepsi peneliti terhadap fenomena. Seorang mahasiswa, misalnya, datang untuk mewawancara seorang tukang sampah, terkait pekerjaan yang dilakukan. Di awal wawancara ia mengatakan, “Pak, saya tahu bekerja menjadi tukang sampah itu tidak enak…(bla…bla…bla…)”, padahal sebelumnya tidak ada satu pun kata-kata partisipan yang menyatakan ketidak-enakan menjadi seorang tukang sampah. Pertanyaan peneliti yang demikian ini akhirnya menggiring partisipan untuk menyampaikan informasi yang tidak lagi apa adanya, tepat sesuai apa yang ia rasakan terhadap pekerjaannya. Kalaupun memang ada ketidak-enakan, seharusnya itu muncul dari penuturan partisipan sendiri, bukan dinyatakan oleh peneliti. Model-model pertanyaan yang seperti ini kalau kita amati juga seringkali dilakukan oleh reporter sejumlah media massa, terlebih jika topiknya berkenaan dengan isu politik, hehehe…

Kelima adalah tentang celetukan atau komentar peneliti di tengah-tengah penuturan partisipan. Beruntung, sejumlah mahasiswa kemudian menyadari bahwa sebenarnya hal seperti ini tidak selalu berefek baik jika dilakukan. Awalnya celetukan atau komentar tersebut diniatkan agar membuat ‘obrolan’ terasa lebih nyaman, lebih ‘gayeng‘ (Bahasa Jawa-nya), karena interaksi antara peneliti dengan partisipan tidak kaku. Akan tetapi pengalaman menunjukkan bahwa pada orang-orang tertentu yang tengah antusias untuk bercerita, bisa mendadak kehilangan sambungan cerita setelah mendengarkan komentar peneliti. Ada arus informasi yang mendadak terputus, dan untuk menyambungnya lagi tidak semua partisipan bisa melakukannya dengan mudah. Beberapa bahkan berubah menjadi kurang antusias saat menghadapi peneliti/pewawancara yang banyak menyeletuk atau memberi komentar di tengah pembicaraan.

Karena itu saya mengingatkan mahasiswa untuk bersabar menyimak apa yang disampaikan oleh partisipan, dan menahan diri untuk tidak terburu menyeletuk atau berkomentar sebelum penuturan mereka benar-benar selesai. Kalaupun bermaksud untuk menunjukkan perhatian yang sungguh atas informasi partisipan, cukup tunjukkan dengan gestur, ekspresi wajah yang juga antusias untuk belajar dan memahami apa yang disampaikan oleh mereka.

Keenam, masih terkait dengan poin sebelumnya, perlu bagi mahasiswa berlatih menahan diri untuk tidak mudah menimpali perkataan partisipan dengan pengalaman pribadi yang berbeda. Terlebih jika itu bernada menyangkal, meragukan, atau bahkan mementahkan cerita. Persoalan juga akan bertambah besar jika karakter partisipan cenderung rendah diri, sehingga menjadi ragu menuturkan pengalamannya karena berbeda dari orang lain. Boleh saja menimpali dengan menunjukkan keheranan atas hal luar biasa yang mampu dilakukan partisipan, sepanjang itu ditujukan untuk memberi apresiasi, dan diekspresikan secara jelas, tidak ambigu dengan sebuah sangkalan atau ketidakpercayaan. Dengan demikian, partisipan akan tetap nyaman untuk melanjutkan ceritanya.

Ketujuh, terkait kesigapan melakukan inquiry. Pada hampir seluruh mahasiswa masih terdapat kecenderungan untuk menyelesaikan wawancara hanya pada informasi-informasi yang sifatnya perifer. Banyak istilah spesifik yang dimunculkan partisipan tidak digali lebih lanjut apa maksudnya. Semisal ketika partisipan mengatakan, “Sejujurnya aku wis judheg kerja di sini ini mbak.. Pengen pindah ke tempat lain..”. Di dalam verbatim, setelah pernyataan itu, peneliti langsung beralih menanyakan hal lain, dan tidak menggali apa yang dimaksudkannya dengan “judheg“, mengapa ia menyatakan demikian, sejak kapan ia merasakan seperti itu, dsb. Akibatnya, analisis yang dihasilkan pun menjadi kurang tajam, jauh dari kata ‘mendalam’.

Bagaimanapun, apa yang dihasilkan oleh sebuah penelitian kualitatif harus setepat mungkin merepresentasikan pengalaman partisipan. Karena itu, setiap langkah penggalian data harus dapat dilakukan dengan optimal. Semoga catatan kecil ini dapat membantu para peneliti pemula untuk lebih mempersiapkan diri sebelum terjun ke lapangan.

Iklan

One thought on “Penggalian Data Kualitatif

  1. Ping balik: Cerita dari Ruang Kuliah: Rupa-rupa Proses Belajar Riset Kualitatif | Wiwin Hendriani

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s