Tentang Pengasuhan Anak Berkebutuhan Khusus (2)

Menyambung tulisan sebelumnya, usai saya menyampaikan materi, sejumlah pertanyaan pun diajukan oleh orangtua ABK yang menjadi peserta. Dua diantaranya menurut saya menarik untuk dijadikan pelajaran bersama. Terlepas dari apakah kita juga memiliki ABK atau tidak, faktanya problem pengasuhan yang dialami oleh peserta seminar juga umum terjadi pada non-ABK.

Lama Waktu Terapi dan Perkembangan Kemampuan Anak

Salah satu peserta menceritakan pengalaman memberikan anak terapi tertentu yang disarankan oleh psikolog, terkait kebutuhan khususnya. Akan tetapi ibu tersebut merasa tidak puas dengan hasil terapi, padahal ia mengaku sudah membayar mahal. Ketika saya tanya mengapa tidak puas, jawabannya karena menurutnya progres kemampuan si anak sangatlah lambat, tidak seperti yang ia harapkan. Lalu saya bertanya lagi tentang usia anak dan sudah berapa lama mengikuti terapi yang dimaksud. Ibu menjawab, anaknya berusia 4 tahun, mengikuti terapi selama 5 bulan dan sebelumnya sama sekali belum pernah mengikuti metode intervensi apapun. Sampai di sini saya masih bertanya lagi, di luar jadwal terapi yang hanya dua kali seminggu, apa yang orangtua lakukan untuk ikut memperkuat kemampuan anak? Adakah upaya orangtua untuk secara mandiri mengulangi apa yang telah diajarkan therapist pada anak di rumah? Nah, yang saya dengar kemudian adalah jawaban ‘mbulet’ berbau defensif yang intinya baik ibu maupun bapak tidak punya waktu untuk mengikuti dan mengulang hal-hal yang telah dipelajari anak di sesi-sesi terapi ๐Ÿ™‚

Dear Bapak/Ibu, tidak akan ada kemajuan pesat tanpa usaha yang maksimal. Semua butuh proses dan waktu. Kalau hanya mau pasrah saja dengan tenaga dan usaha therapist, ya milikilah sabar yang tak berbatas. Jangan mengeluh kalau progresnya tampak lambat. Terlebih waktu mereka hanya 2 kali seminggu dengan jumlah jam yang juga tidak lama. Mari berpikir realistis, jangan hanya berharap hasil besar tapi usaha minimal. Progres pada anak akan mungkin dipercepat jika orangtua bersedia aktif untuk ikut memberikan stimulasi di rumah. Terlebih jika dihitung betul, mestinya jumlah waktu yang dimiliki orangtua untuk berinteraksi dengan anak jauh lebih banyak daripada guru atau therapist yang hanya sebatas jadwal belajar.

Kasus ini mirip dengan isi curhat seorang teman yang mengaku sudah berusaha menerapkan saran psikolog untuk mengubah perilaku anaknya (non-ABK) yang tidak diinginkan. Ia sudah hampir 2 bulan mengikuti tips dari psikolog, dan ada perubahan, tetapi menurutnya tidak signifikan. Saya tersenyum mendengarnya, lalu bertanya, sudah berapa lama perilaku salah anaknya itu muncul? Jawabnya sudah cukup lama, dan ketika saya desak lagi ternyata memang sudah lebih dari 3 tahun tanpa upaya serius untuk mengatasi, dengan alasan si anak masih kecil jadi masih ditoleransi. Saya katakan kemudian, membiarkan perilaku salah itu sama saja dengan mendukungnya untuk tumbuh menjadi sebuah kebiasaan. Lha kalau sudah selama lebih dari 3 tahun dibiarkan menjadi kebiasaan anak, lalu akan dibalik 180 derajat hanya dalam waktu kurang dari 2 bulan, ya….mending pakai jurus sulap aja kalau ada, hehehe…. ๐Ÿ˜€

Ketidakmampuan Orangtua Memahami Bahasa Anak

Seorang ibu membagi kegalauan karena tidak mampu memahami maksud pembicaraan anaknya. Si anak didiagnosa hiperaktif sejak umur 5 tahun, setelah mendadak mengalami panas tinggi dan kejang. Sejak itu pulalah ibu mengaku kemampuan berkomunikasi anaknya berubah drastis, menjadi sulit dimengerti. Sementara apabila tidak direspon, menurutnya anak akan mengamuk.

Terlebih dahulu saya bertanya, apa saja kesibukan ibu setiap hari. Awalnya ia menjawab sebagai ibu rumah tangga biasa yang tidak bekerja dan sehari-hari hanya di rumah bersama anak. Oke, berarti interaksi dengan anak bisa maksimal, pikir saya. Lalu kemudian saya bertanya lagi, jika sebelum 5 tahun saat anak panas dan kejang itu perkembangannya normal, dan baru di usia 5 tersebut segala sesuatunya berubah, maka apa yang kemudian dilakukan ibu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi anak? Jawaban yang muncul agak berbeda dari sebelumnya. Lebih jujur, meski tetap sarat dengan kalimat pembenaran. Biasalah….hidup kita ini kan memang penuh dengan beragam mekanisme defensif, hihihihi…. ๐Ÿ˜€

Singkat cerita, si ibu akhirnya mengakui kalau ia tak punya cukup waktu untuk fokus mendampingi anak, karena sibuk untuk mencari tambahan penghasilan dengan berdagang. Tuntutan kebutuhan keluarga membuatnya mau tidak mau harus ikut mencari uang, sehingga terhadap anak yang berkebutuhan khusus ia tidak sempat memberikan stimulasi yang dibutuhkan, tidak sempat menyesuaikan kembali pengasuhannya, bahkan sekedar meluangkan waktu untuk memahami pola komunikasi anak yang memang berubah pun akunya tidak cukup tenaga.

Mendengar itu, saya mengatakan bahwa semestinya orangtua, terlebih ibu adalah orang yang paling dekat dengan anak. Jika orang lain sulit memahami ucapan seorang anak batita, maka tidak demikian dengan ibunya. Ibu jugalah orang yang paling memahami perbedaan arti tangisan bayi antara satu waktu dengan waktu yang lain. Karena itu, jika ibu kemudian menyatakan tidak mampu memahami anak, tidak mengerti komunikasi anak, maka jelas ada ‘PR’ dalam interaksi ibu dengan anak yang harus segera diperbaiki, jika tidak ingin hal tersebut menjadi persoalan yang semakin besar.

Lalu bagaimana mensiasati waktu ibu yang terbatas dengan banyaknya tuntutan tanggung jawab termasuk pekerjaan? Maka saat itu saya hanya mengingatkan bahwa sebenarnya setiap orang, siapapun, juga mengalami hal yang serupa di dunia ini. Semua orang setidaknya pernah menghadapi waktu yang seolah serba terbatas untuk mengerjakan ini-itu. Dan mereka yang berhasil adalah yang dapat menetapkan prioritas secara tepat dan siap menghadapi segala konsekuensi dari pilihannya. Jika dalam hal ini ibu merasa anak adalah prioritas, maka entah bagaimana caranya ibu harus bisa meluangkan waktu untuk intens berinteraksi dan membangun komunikasi yang baik dengan anak. Namun jika pekerjaan dipandang lebih penting, maka ibu harus siap dengan risiko perkembangan anak yang akan semakin tidak terpantau dan minim progres. Jadi kembali ke ibu, mau pilih yang mana… ๐Ÿ™‚

Iklan

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s