Karena Nama Adalah Do’a

Dulu dari awal menikah, sebelum akhirnya benar-benar hamil, saya dan suami sudah sepakat bahwa anak kami akan kami beri nama DAMAI. Sebuah nama yang menggambarkan keadaan yang menenangkan, kehidupan yang jauh dari permusuhan, hal yang membuat setiap orang dapat hidup berdampingan dengan tenang dan harmonis. Maka ketika kemudian ia benar-benar lahir, tanpa banyak berembug lagi, nama itulah yang kami berikan untuknya.

photo (3)Dan entah karena pada dasarnya nama adalah do’a, atau karena cara kami mengasuhnya yang sedikit banyak juga terilhami oleh nama tersebut, dalam banyak kesempatan Damai pun muncul sebagai pembawa damai di kehidupan kami. Eh…iya, jadi ingat, pernah ding di suatu masa Damai seharian uring-uringan tanpa sebab yang jelas. Lalu saya meresponnya dengan bertanya, “Namamu siapa sih?”… “Damai”, jawabnya singkat. “Ooo…Damai. Bukan Ribut kan ya? Bukan si Pengomel? Bukan mbak-mbak tukang ngamuk?” 😀 “Hehehe…..”, maka ia pun mengganti cemberutnya dengan cengar-cengir.

Ya, si pembawa damai dalam keluarga kecil kami. Mulai dari tingkat kerewelannya di masa bayi dan kanak-kanak awal yang terhitung sangat minim; mudahnya ia diberikan pengertian ketika keinginannya tidak dapat terpenuhi; inisiatifnya untuk membesarkan hati orang lain yang sedang mengalami kesedihan; sampai benar-benar tampil sebagai penengah ketika ada temannya yang berselisih paham, sebagaimana dituturkan pula oleh guru-guru sekolahnya. Menarik menurut subjektivitas saya sebagai orangtuanya, meski di sisi lain sering dikatakan tampak jauh lebih dewasa daripada umurnya. Yah… segala hal memang punya konsekuensinya masing-masing. Sepanjang itu bukan hal yang dipaksakan, sepanjang ia tetap dalam dunianya dan memperoleh haknya sebagai anak-anak, InsyaAllah tidak masalah.

Ini adalah beberapa penggalan dari banyak kata-katanya yang kerap membawa damai:

–> “Nggak apa-apa Ma… Jangan sedih ya Ma…”, katanya sambil tersenyum manis dan mengusap-usap tangan saya saat ia tahu saya sedang kecewa dengan pekerjaan yang tidak berhasil saya selesaikan.

–> “Mamski capek ya seharian kerja? Sini aku pijitin…”

–> “Tadi ada temanku yang tengkaran di sekolah… (lalu menceritakan kronologis kejadian pertengkarannya)… Trus kutanya kenapa kok gitu? Trus kubilangin aja, ya sudah baikan lagi, kan nggak enak kalau tengkaran gitu…”

–> “Paaap, sudah dong, jangan gangguin mamski terus….”

–> “Oke-oke Mam…. aku mengerti….” sambil beranjak melakukan sesuatu setelah saya beri pengertian bahwa sesuatu itu penting.

–> “Tenang Mam, aku nggak apa-apa kok… Aku baik-baik aja…” katanya menenangkan saat saya mengkhawatirkan sesuatu padanya.

Semoga tahun demi tahun berikutnya selalu demikian ya Nduk….. Selalu membawa kedamaian di sepanjang usiamu. Do’a mamski dan papski selalu untukmu 🙂

Iklan

2 thoughts on “Karena Nama Adalah Do’a

  1. Win, kalau ngga salah ingat, kamu sudah jatuh cinta sama Damai AFI Junior zaman itu kan yah? Terinspirasi dari situ juga kali yah….:)

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s