Cerita Seputar Parenting dari Momen Lebaran Lalu

Ini tulisan yang lupa di-share saat lebaran kemarin. Buat saya yang suka iseng mengamati orang, momen lebaran, saat ngumpul-ngumpul bersama teman dan saudara adalah salah satu waktu yang tepat juga untuk belajar sesuatu dari sekitar. Apa saja, termasuk seputar parenting.

Dua pelajaran menarik yang sempat jadi bahan renungan saya dimulai dari cerita Iqbal dan Rani, masing-masing adalah anak 2 orang teman yang bersama mereka saya sempat bertemu kangen di sekitar waktu mudik. Usia Rani hampir 6 tahun. Iqbal 2 tahun, dan tangannya sangat aktif……memukul, hehehe… 😀  Dan waktu itu yang sedang menjadi sasaran adalah kepala Rani. Tampaknya cukup keras, sehingga kontan Rani menutup muka, menangis tanpa suara. Melihat anak temannya menangis karena dipukul oleh anaknya, ibu Iqbal segera mengusap kepala Rani sambil berkata, “Ndak apa-apa mbak? Mana yang sakit? Iya, dek Iqbal itu memang gitu, sukanya mukul-mukul…” Setelah itu ia menggendong Iqbal menjauh dari Rani dan memanggil babysitter untuk menemani Iqbal bermain.

Kejadian sederhana, tapi mengandung muatan parenting yang……mungkin tidak salah, tapi saya agak kurang sreg. Menurut saya, ada pilihan respon lain yang berdampak lebih positif, baik untuk Rani maupun Iqbal sendiri. Saya membayangkan sambil mengusap kepala Rani, ibu Iqbal akan menegaskan pada anaknya bahwa yang dilakukan tidaklah benar, dan mengajarkan Iqbal untuk segera meminta maaf. Tapi ternyata tidak. Padahal manfaat positifnya, pada saat tersebut Iqbal bisa belajar tentang benar salahnya perilaku yang dimunculkan. Jika ibu konsisten untuk sigap dalam meluruskan perilaku yang kurang tepat, anak akan semakin paham tentang apa yang boleh dan tidak boleh, sekaligus membangun kebiasaan baik untuk segera meminta maaf ketika berbuat salah. Pelajaran yang sama tentu akan ditangkap pula oleh Rani, disamping ia juga belajar untuk memaafkan orang lain. Jadi dengan 1 pilihan respon, ibu bisa memberikan sejumlah muatan pendidikan budi pekerti pada anak-anak. Dibayangkan saja rasanya indah.. 🙂

Sayangnya itu hanya bayangan saya sendiri. Langkah ibu Iqbal untuk berkata Iya, dek Iqbal itu memang gitu, sukanya mukul-mukul” di depan Iqbal dan Rani sebenarnya justru bisa mendatangkan pemahaman yang keliru. Bagi Iqbal, kalimat tersebut seolah-olah semakin mengukuhkan bahwa ia memang anak yang suka memukul, dan tidak apa-apa memukul, toh orang lain sudah diberitahu ibunya kalau dia memang seperti itu. Jadi setiap kali ia melakukannya lagi, tinggal meminta permakluman orang lain kalau memukul memang kebiasaannya. Sementara bagi Rani dan mungkin anak-anak lain yang mendengar kalimat serupa akan semakin memperkuat persepsinya bahwa Iqbal adalah anak yang tidak menyenangkan, anak nakal yang suka menyakiti orang lain, sehingga harus dihindari dan tidak perlu diajak berteman. Nggak asik kan… 😀

Tapi….mengajarkan anak yang masih 2 tahun untuk minta maaf itu mungkin ya? Ya mungkin saja, mengapa tidak? Mereka sudah bisa belajar dari usianya. Banyak orangtua yang bisa melakukan, mencontohkan dan mengajarkan pada anak sedari dini tentang berbagai kebiasaan positif. Efek perilakunya memang tidak langsung terlihat. Sebagaimana sebuah proses belajar, ia butuh waktu. Kecepatannya akan tergantung pada konsistensi orangtua dalam mengajarkan dan mencontohkannya. 

Cerita lain yang membuat saya terkesan adalah saat bertemu dengan keluarga sahabat kecil saya dengan 2 anak mereka yang luar biasa. 2 anak kecil yang sangat manis perilakunya. Sangat berbeda dengan kebanyakan anak-anak sekarang yang kurang peka tata krama dan minim sopan santun. Afifah, anak pertama baru kelas 4 SD. Sementara adiknya, Abi, masih di TK B. Mulai dari masuk rumah Afifah dan adiknya langsung salim dengan hati. Saya bilang dengan hati karena salimnya tulus, cium tangan benar, bukan semacam salim cium tangan yang nggak ikhlas, yang terasa sekedarnya dan ditempel di pipi seperti pada kebanyakan anak, hehehe… Mereka duduk dengan tenang, menjawab pertanyaan dengan sopan sambil tersenyum. Sebagai kakak, Afifah juga sangat peka untuk ikut mengingatkan adiknya ketika sudah mulai tidak tenang, tetap dengan bahasa anak yang tidak berlebihan. Saat adiknya bilang ingin buang air kecil, Afifah mengantarkannya ke kamar mandi dan membantunya untuk membersihkan setelah selesai. Ekspresi sayangnya ke adik yang natural plus kesadarannya untuk membantu orangtua menjaga adiknya membuat saya terpukau, hehehe…

Melihat anak-anak yang tumbuh sedemikian, pasti sedikit banyak membuat kita penasaran dengan profil orangtuanya. Sahabat saya dan suaminya adalah tipe orangtua yang hangat pada anak, dengan pembawaan yang sederhana. Mereka memiliki prinsip yang dipegang dalam mendidik anak. Keduanya kebetulan juga bekerja. Sahabat saya bekerja di kantor pemerintah, sedangkan suaminya berprofesi sebagai guru. Kalau ada yang sempat berpikir bahwa anak-anak yang disiplin, yang patuh dan tahu sopan santun adalah anak-anak dengan didikan keras dari orangtua yang otoriter, itu salah besar. Yang saya tahu dari kesehariannya, kedua teman saya ini sangat komunikatif dan ramah pada anak. Mereka tidak mengingatkan anak dengan berteriak apalagi marah-marah, melainkan dengan tegas namun tetap menggunakan pilihan kata yang mudah diterima oleh anak. Mereka konsisten dengan apa yang diajarkan dan memberikan contoh perilaku nyatanya, sehingga anak yang terbiasa melihat apa yang seharusnya dilakukan akan mudah untuk meniru. Pelajaran berharga dari sahabat ini pada akhirnya semakin memotivasi saya untuk bisa mengupayakan hal baik serupa dalam mendidik Damai…. 🙂

Sila baca beberapa tulisan terdahulu yang terkait: Siapa Saya dan Apa Peran Saya.. ; Dari Obrolan Bersama Teman Seputar Pengasuhan Anak ;  Perkembangan Anak Itu Bukan Sulap Bukan Sihir

Iklan

4 thoughts on “Cerita Seputar Parenting dari Momen Lebaran Lalu

  1. mb win aku mau nanya nih mumpung sama ahlinya aku baca kejadian diatas, apabila kita udah nyuruh minta maaf trus anaknya gak mau padahal kita udah kasih pengertian pentingnya minta maan n si anak tetep tidak mau gimana tuh ya menyikapinya…

    • Halo jeng… Kata kuncinya “proses” tadi sebenarnya. Pertama diminta mungkin masih sulit mengikuti. Tapi kalau kita terus memberi contoh di depannya (kita sendiri disiplin untuk juga meminta maaf kalau melakukan kesalahan) dan konsisten untuk juga memintanya melakukan ketika ia yang salah, lambat laun anak akan mengikuti dan terbiasa melakukannya juga.
      Kalau dalam banyak situasi kita sudah disiplin memberi contoh dan mengingatkan tapi dia tetap tidak mau mengikuti, bisa di-mix dengan cara lain, hehehe… Misal dengan menunda memberikan apa yang dia minta/inginkan sampai dia meminta maaf dulu atas kesalahan yang sebelumnya dilakukan. Aku pernah praktekkan ini ke Damai juga dulu, dan berhasil 😀

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s