Andai Masih Boleh…

Dear Pak Ino,

Kemarin jasad Bapak telah diperabukan. Dan sekarang, mungkin Bapak telah mulai menyusuri perjalanan Bapak yang baru, seperti yang tertulis dalam surat itu.

Tadinya saya sempat berpikir, setelah selama beberapa hari sejak Selasa lalu mata saya tak berhenti sembab, maka tangis di siang saat Upacara Penghormatan Terakhir untuk Bapak kemarin adalah juga tangis saya yang terakhir. Saya pikir sesudahnya semua akan segera kembali normal. Tapi ternyata tidak. Belum. Bayangan akan masa-masa sepi Bapak di kampus beberapa waktu lalu akhirnya datang lagi.

Pak, andai masih boleh menyesali sesuatu yang paling mengganjal bagi saya dengan kepergian Bapak… (satu hal saja, tidak banyak), itu adalah sedikitnya waktu yang bisa saya berikan untuk menemani Bapak di saat-saat yang tidak  menyenangkan itu. Saya tahu waktu itu Bapak sedih, saya tahu Bapak kecewa, saya tahu Bapak berusaha mengatasi tekanan itu dengan tetap bertahan di Gedung Lama, sendiri. Seolah tak ingin kehilangan kenangan manis, tentang kebersamaan dengan semua “anak didik” Bapak di PIO, yang sebelumnya selalu terjalin di tempat itu. 

Tapi Pak, saya yakin Bapak paham, itu juga bukan waktu yang mudah untuk saya hadapi. Ada banyak hal yang harus saya pikirkan, saya tenangkan, saya siapkan, terkait dengan keputusan keluarnya Mas Bukik dari kampus. Sementara pada saat yang sama beruntun ada beberapa pekerjaan yang juga harus saya selesaikan. Nyaris energi saya habis waktu itu. Di sisa yang masih ada, saya hanya sempat berbicara dengan Ardi, memintanya untuk sering menengok dan menemani Bapak di GL. Agar Bapak ada teman ngobrol, agar Bapak tidak benar-benar sendiri dengan kesedihan dan kekecewaan Bapak.

Dan semakin merasa bersalah ketika ingat bahwa begitu kita ketemu, yang justru Bapak khawatirkan adalah keluarga kami. Sambil berusaha menutupi kesedihan, Bapak berulang kali bertanya, apakah mas Bukik sudah membicarakan betul keputusannya dengan saya, apakah kami sudah membahasnya dengan baik, apakah orangtua kami sudah mengetahuinya, apakah kami sudah menyiapkan rencana yang matang jika dia sudah keluar apa yang akan dia lakukan sebagai ganti dari pekerjaannya. Dan berulang kali pula saat itu saya katakan sudah. Saya ingin saat itu Bapak tidak khawatir. Kekhawatiran yang akan berpengaruh pada kondisi kesehatan Bapak. Saya ingin Bapak terus sehat, terus bersemangat seperti sebelumnya, meskipun mas Bukik sudah tidak di kampus lagi.

Pak Ino, maafkan jika kata-kata saya tidak cukup menenangkan buat Bapak saat itu. Maafkan jika kata-kata saya tidak mampu meringankan beban pikiran Bapak sehingga Bapak tetap merasa terpukul, seperti yang sempat diceritakan oleh Bu Liliek dan beberapa teman yang lain. Maafkan atas terbatasnya waktu saya untuk bisa lebih banyak mengobrol dengan Bapak, mengurangi sepi yang Bapak rasakan di kala itu.

Maafkan saya, Bapak…

Tapi saya juga lega. Setidaknya di bulan-bulan terakhir ini, saya, Ardi, Ayok, Ucok, Ira, dan Dewi masih bisa melakukan beberapa hal bersama Bapak, berdiskusi ini-itu, membuat Bapak tertawa lebar, bertanya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan Bapak, juga mendengarkan berbagai pesan dan nasehat yang Bapak berikan. Makan siang terakhir bersama Bapak di kantin Sastra hari itu, tidak akan saya lupakan.

Selamat menempuh perjalanan yang baru ya Pak… Terlepas dari apapun, Tuhan tahu Bapak orang yang baik. Karenanya, saya yakin Bapak akan mendapatkan tempat dan perjalanan yang baik pula di sana…

Iklan

4 thoughts on “Andai Masih Boleh…

  1. Terima kasih sudah menuliskan sisi kehidupan Pak Ino yang jarang diulas, yang berat buat diulas, setidaknya buat aku sendiri: kesendirian, kesepian, dikucillkan

    • dari sekian banyak tulisan tentang “kepergian pak Ino”, entah kenapa justru tulisan inilah yang membuat saya menangis, Bu 😦
      saya yakin beberapa mahasiswa ada yg “tahu” atau “sok tahu” dg kondisi yang bu Wiwin sebutkan di atas, tapi juga mungkin tidak ada yang sempat, mau, atau berani “menyapa” pak Ino disana, di Gedung Lama.

  2. Ping balik: Mengapa Saya Mengajak Menulis Tentang Ino Yuwono Segera? | Bukik Ideas

  3. Mengutip omongan dari seorang ahli. “‘Ketika orang besar pergi meninggalkan kita,tidak ada orang yg merasa paling kehilangan. Karena semua orang merasa kehilangan orang besar itu”.
    Mb Win,ms Bukik, aku merasakan hal sama. Pak ino adalah orang yg teramat istimewa bagi kita semua, selama ini beliau terus memantau perkembangan anak2nya,sahabat2nya sehingga kita tidak pernah merasa ditinggalkan oleh beliau
    Selamat jalan bapakku tercinta, selamat melanjutkan perjalananmu yg kekal dan damai di atas sanas

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s