Mundur Selangkah untuk Proses Belajar yang Lebih Baik

Cerita bermula dari kejadian di suatu siang, saat saya mengajak Damai untuk ikut ke kampus sepulang ia sekolah. Bahwa Damai ikut les piano, sejumlah teman dosen telah mengetahuinya, termasuk Pak Ucok yang saat itu masih bersebelahan ruang dengan saya. Melihat ada Damai, ia menunjukkan satu partitur lagu yang kalau saya bandingkan dengan buku latihan Damai, notasinya tidak lebih sulit, alias cukup sederhana. Pak Ucok meminta Damai untuk membacanya, dan bertanya, “Bisa baca not-not ini nggak?”. Di luar dugaan saya, Damai menjawab “Enggak Om…”. Dienggg!!! Jawaban yang aneh… Penasaran saya lihat lagi partitur itu. Benar, sebuah lagu sesederhana notasi di buku latihannya. Harusnya Damai bisa, batin saya.

Setelah itu, saya mulai berpikir, mengingat-ingat situasi setiap kali ia latihan piano di rumah. Hmm….sadarlah saya saat itu bahwa memang ada sesuatu yang aneh dengan kemampuan Damai. Sesuatu yang sebelumnya cenderung saya abaikan.

Damai membutuhkan waktu yang lama untuk membaca not balok, sekalipun itu bukan lagu yang panjang dan rumit. Bahkan belakangan ia cenderung memilih bermain aman. Di rumah ia hanya mau mengulang-ulang memainkan lagu dari halaman buku yang sudah lama lewat dipelajari. Artinya, itu adalah lagu-lagu yang dia sudah setengah atau bahkan ia hafal seluruhnya. Ketika saya minta untuk beralih ke halaman-halaman yang sedang dipelajari di tempat les, ada saja alasannya untuk berkelit. Padahal maksud saya agar yang dilakukan di rumah juga sejalan dengan yang dipelajari bersama gurunya. Sempat suatu ketika saya paksa, dan semakin tampaklah bahwa dia sangat kesulitan memahami not balok. Hal ini kontradiktif dengan lagu-lagu yang bisa dia mainkan untuk keperluan lomba atau perform, yang diberikan oleh gurunya dari luar materi pelajaran reguler, dan jelas-jelas lebih sulit. Ringkasnya, memainkan lagu-lagu yang cukup rumit di atas levelnya bisa, tapi membaca not balok lagu yang lebih mudah tidak bisa.

Semakin penasaran, saya lalu mencari beberapa partitur lagu lomba dan performance yang pernah diberikan oleh gurunya. Dan saya pun menemukan sesuatu yang menganjal. Ada not-not angka / huruf di bawah setiap not balok yang ada dalam partitur-partitur itu. Ketika saya tanya, mana yang selalu dilihatnya setiap kali belajar memainkan partitur “dengan terjemahan” itu? Apakah not baloknya, atau tulisan huruf / not angkanya? Dan jawaban Damai seperti yang saya duga: “Tulisan huruf / not angka, bukan not baloknya”. Nah kan?!

Saya lalu teringat sebuah artikel yang pernah saya baca, dari sekian banyak informasi tentang proses belajar piano yang saya akses agar saya mampu men-support proses belajar Damai di luar jadwal les. Dalam artikel itu tertulis bahwa memahami dan menguasai not balok wajib hukumnya bagi seorang murid piano. Sangat tidak disarankan jika seorang yang sedang belajar piano menerjemahkan not balok dalam not angka dengan tujuan agar lebih mudah memainkannya. Sebab hal itu akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuannya ke depan dalam memainkan berbagai repertoar, terlebih klasik. Lalu pertanyaan saya, kenapa ada “not terjemahan” dalam partitur yang dipelajari Damai?

Singkat cerita, saya kemudian berkonsultasi dengan seorang teman yang juga menjadi guru piano. Teman tersebut menjelaskan bahwa hal yang dialami oleh Damai tidak sedikit pula dialami oleh anak-anak yang lain. Seringkali itu terjadi saat guru memiliki orientasi yang besar untuk sering mengikutkan muridnya dalam kompetisi. Apakah itu salah? Tentu tidak. Karena keikutsertaan dalam event kompetisi juga berperan besar untuk meningkatkan skill anak. Namun idealnya, materi yang dimainkan dalam kompetisi juga setara dengan kemampuan dan materi yang dipelajarinya sehari-hari. Bukan melompat ke materi dari level yang lebih tinggi hanya demi mengejar hasil, terlebih dengan langkah-langkah potong kompas mengadaptasikannya dalam not angka untuk mempercepat anak menguasai lagu.

Penjelasan itu membuat saya merenung, sebenarnya untuk apa sih saya memasukkan Damai ke sekolah piano? Apakah agar ia rajin mengikuti kompetisi? Rasanya tidak. Saya hanya ingin menyeimbangkan kemampuan akademisnya dengan seni. Itu saja. Sehingga kalau mau disiplin dengan niatan itu, semestinya Damai tidak perlu dikondisikan untuk sering mengikuti kompetisi. Ya…paling tidak setahun sekali sudah cukuplah, sekedar untuk tolok ukur. Saya, juga bapaknya, lebih suka melihat Damai berlatih dan meningkatkan kemampuannya dengan proses yang benar, sehingga ia mampu memiliki dasar yang kuat dan matang dalam bermusik. Kami ingin suatu saat nanti ia mampu memainkan beragam lagu secara mandiri karena skill-nya yang memang terasah, di samping juga keinginan agar Damai dapat belajar piano dengan perasaan senang, tanpa beban, sehingga materi yang seharusnya dikuasai pun dapat dicerna dengan sebaik mungkin.

Setelah cukup lama menimbang, akhirnya kami bersepakat untuk memindahkan Damai ke sekolah musik lain. Berdasarkan survey dan informasi yang terkumpul, kami merasa lebih nyaman dengan program pendidikan yang diterapkan di sekolah itu.

Bersyukur, setelah melewati masa trial dengan guru baru, Damai juga mantap untuk belajar di sekolah baru itu, meskipun hal yang dipelajari mungkin selangkah lebih mundur dari sebelumnya. Guru baru Damai memutuskan untuk memperbaiki kembali pondasi bermusik Damai yang tadinya kurang kuat, membiasakan Damai untuk disiplin membaca not balok dan memperhatikan seluruh tanda dalam setiap partitur, tidak memberikan materi-materi yang lompat level, membiasakan bersikap yang benar dalam memainkan alat musik, tapi tetap dengan aktivitas-aktivitas yang menyenangkan, bervariasi, dan komunikasi yang hangat. Hasilnya, lambat laun, kemampuan Damai membaca not pun semakin membaik. Ia lebih termotivasi mempelajari partitur-partitur baru dengan mandiri, lebih berinisiatif pula untuk memulai latihan-latihan pianonya di rumah, di sela-sela waktu belajar dan bermainnya, bahkan di waktu sempit saat menunggu mobil jemputan sekolah datang. Yap, dia lebih hepi dengan pianonya, selain juga banyak bercerita tentang berbagai keasyikan saat les, dan kurikulum yang sekaligus memfasilitasinya untuk belajar kemampuan lain yaitu menyanyi.

Dari cerita ini, saya juga ingin menggarisbawahi bahwa sekalipun memiliki keterbatasan kemampuan dalam bidang tertentu yang sedang dipelajari oleh anak, bukan berarti tertutup jalan bagi kita untuk terus memantau perkembangan anak-anak kita di dalamnya. Asalkan kita mau, kita bisa memulainya dengan rajin mengamati hal-hal kecil yang terjadi pada anak dan aktif mencari berbagai informasi terkait hal yang sedang dipelajari, baik untuk mengapresiasi dan memperkuat perkembangannya, maupun mengantisipasi terjadinya sesuatu yang mungkin tidak diinginkan.

Iklan

2 thoughts on “Mundur Selangkah untuk Proses Belajar yang Lebih Baik

  1. hehehehehe…..bener bgt mb win, itu yg kmrn pas parent meeting antara oarng tua en gurunya ameera di irama mas…..kdng orang tua mau instan anak2 lgs bs main piano dg baik, tanpa memperhatikan proses seperti mendengar, bernyanyi, dan bertepuk tangan….kak damai…kpn ya ameera bs liat kak damai main piano……

  2. Ping balik: Apa yang Belum Tentu Ditawarkan Lembaga Pengembangan Bakat Anak? - Portal Bakat Anak

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s