Hari-Hari Pertamanya Jadi Anak SD

Hepi? Itu sudah pasti. Bahkan dari beberapa minggu sebelumnya Damai sudah sangat antusias untuk segera memulai petualangan barunya 🙂

Senin, 9 Juli 2012

Dari jam 4 pagi sudah bangun, langsung sibuk mengecek apakah barang-barang yang akan dibawa dan dikenakannya sudah siap atau belum.

“Seragam…sudah. Tasku di belakang. Sepatu kuambil di kamar kupu-kupu ya… Kaus kakinya mana Mam?”

“Ambil di lemari. Hari ini pertama masuk, diantar dulu sama mama. Bapak juga mau ikut. Tapi besok, sudah langsung ikut antar-jemput ya…”, jawab saya.

“Oke Mam! Hari ini ditinggal juga nggak apa-apa kok Mam…”

Nggak apa-apa wes, mama memang sekalian mau tanya ke bu guru soal buku, cadangan seragam sama pilihan kegiatan ekstra untuk kelas 1. Bekal sudah ada di tas ya… jadi pas istirahat nggak perlu beli makanan. Yang baik sama teman-temannya. Kalau ada yang nggak bawa bekal, bekalmu bisa dibagi secukupnya. Trus perhatikan apa kata guru, jadi kalau di kelas jangan ngobrol sendiri…”

“Iya Mamski…” 😀

Dah. Berangkatlah kami dengan hati riang. Sampai di sekolah bercat biru itu, suasana begitu ramai. Murid-murid baru dan orangtuanya sudah banyak yang berdatangan. Di gerbang, sejumlah guru ramah menyambut, mengarahkan kami untuk mengecek pembagian kelas di papan pengumuman, dan menunjukkan dimana letak ruang-ruang kelas 1. Damai masuk di Kelas 1 Umar bin Khatab. Kalau dulu saya SD paralelnya hanya dinamai dengan huruf A, B, C, dan seterusnya, di sekolah Damai tiap kelas dinamai dengan nama-nama tokoh Islam.

Di ruang Kelas 1 Umar, Damai disambut oleh dua orang guru, seorang wali kelas dan seorang lagi pendampingnya. Dan setelah bel tanda masuk berbunyi, para orangtua menunggu anak-anak di tempat yang sudah disediakan oleh sekolah, sambil mengurus beberapa keperluan anak di kantor atau koperasi.

“Gimana Mai? Asik jadi anak SD?” tanya saya di perjalanan pulang hari itu.

“Iya. Seru Mam! Tadi itu ternyata di kelasku ada beberapa anak yang dari TK-ku. Jadi nggak aku aja. Aku dapat lagu baru, dapat tepuk-tepuk baru juga…”. Lalu dia memperagakan tepuk-tepuk yang dimaksud dan lagu yang baru dipelajarinya.

“Siapa nama guru kelasmu?” tanya saya.

“Bu Susan sama Bu Ita”

“Sudah kenalan sama teman-teman baru belum?”

“Sudah, tapi belum semuanya. Baru 1 yang kuingat namanya. Nina. Duduknya sama Nayla di belakangku. Aku duduk sama Luna”. Yang bernama Nayla dan Luna dulu satu TK dengan Damai di Primagama.

“Besok ditambah lagi ya, biar tambah banyak temannya.”

“Oke Mam!”

“Bekalmu tadi habis?”

“Iya, tadi kubagi sama teman-temanku yang nggak bawa bekal”

“Siiiip…”

Sampai rumah, selepas berganti baju, ia langsung sibuk mengecek jadwalnya untuk besok, plus menyiapkan beberapa hal yang diminta oleh gurunya.

Selasa, 10 Juli 2012

06.00 WIB mobil jemputan sekolah sampai di rumah.

“Mobilnya datang Mai. Hati-hati ya… Nanti pulangnya tunggu pak supir di gerbang sekolah aja, dekat satpam. Kalau jemputan belum datang ditunggu dulu sama teman-temanmu. Jangan pergi kemana-mana…”

“Oke Mam! Aku berangkat dulu ya… Assalamu’alaikum…”

Berangkatlah kembali ia dengan riang. Tapi sayangnya, sesuatu terjadi di hari itu. Pulang sekolah, ia tidak seperti hari sebelumnya. Masuk rumah dengan wajah lelah, dan bercerita dengan tidak antusias. Penasaran, saya pegang dahi dan lehernya. Dan benar, badannya panas! O’o…kambuh lagikah alerginya? Segera saya beri paracetamol, dan saya minta dia istirahat. Alhasil, di hari ketiga, terpaksa Damai ijin tidak masuk sekolah karena suhu badannya masih belum stabil turun. Dengan tatapan kecewa, ia melihat saya menitipkan surat ijin pada teman sekelas yang ikut di mobil antar jemput.

Seharian ia beristirahat di rumah dengan murung. Khawatir ketinggalan pelajaran, katanya. Saya bilang, minggu itu masih minggu orientasi sekolah. Belum mulai pelajaran yang sebenarnya. Jadi tidak masuk sehari karena sakit insyaAllah tidak akan ketinggalan materi baru. Kalaupun ada sesuatu yang tertinggal, ia bisa menyusul bertanya ke teman atau gurunya besok.

Begitulah Damai di hari-hari pertamanya jadi anak SD. Setiap pulang sekolah, beragam cerita selalu meluncur dari mulutnya. Tentang teman, tentang sekolah, guru, juga suasana di mobil antar jemput yang tidak kalah menariknya. Hmm…semoga terus bersemangat seperti itu ya nduk 🙂

Di akhir masa orientasi, guru membagikan hasil belajar seluruh siswa untuk materi baca-tulis-hitung selama seminggu. Alhamdulillah…di samping inilah rapor makasa Damai.

Iklan

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s