Kisah Tiga Orang “Desa” yang Pertama Kali Masuk “Kota”

Sabtu, 28 April 2012 adalah hari pertama kalinya Damai mengikuti kompetisi piano, setelah hampir 1 tahun jadi murid di salah satu sekolah musik di kota kami. Kurang lebih 1,5 bulan ia sudah mempelajari materi lagu yang akan dilombakan, dengan segala keterbatasan kemampuannya. Ada rasa deg-degan, seperti yang diakui sendiri oleh Damai, tapi juga ada semangat yang membuatnya antusias untuk menyiapkan segala sesuatunya.

Emak dan bapaknya pun tidak jauh beda. Ikut deg-degan, tapi juga antusias. Sebenarnya kalau boleh jujur, saya dan si bapak masih belum sepenuhnya yakin dengan kemampuan anak kami, terkait dengan keikutsertaannya dalam sebuah kompetisi. Setahu saya, permainan pianonya masih “moody”, belum konsisten. Kadang oke sesuai partitur, kadang juga tidak. Apalagi kalau mengingat bahwa umumnya lomba-lomba piano selalu diserbu oleh peserta berwajah oriental yang sangat mendominasi perolehan nilai. Yah….. boleh dibilang, mereka memang sudah merajai dunia persilatan piano di negeri ini 😀 

Jadi rasanya kalau dalam Bahasa Jawa itu “awang-awangen“. Sudah bayar pendaftarannya mahal, hasilnya juga mungkin tidak jauh-jauh dari sebatas kelompok peserta penggembira. Alias teramat sangat jauuuuh dari kata juara. Tapi kemudian kami berpikir lagi, apa salahnya sekali-sekali uji nyali? Itung-itung biar kami tahu seberapa jauh capaian proses belajar Damai selama ini, terutama jika dibandingkan dengan anak-anak lain yang sama-sama mengikuti lomba. Selain itu, agar Damai punya pengalaman juga dalam mengikuti lomba piano. Sebuah pengalaman berkompetisi yang lingkupnya jauh lebih luas dari level sekolah, seperti pada berbagai perlombaan yang pernah diikutinya selama ini. Tentu dia akan bisa belajar dari peserta lain seusianya yang lebih mahir bermain piano, sehingga harapannya ke depan Damai akan semakin termotivasi untuk terus meningkatkan kemampuannya. So… dengan pertimbangan itu, jadilah kemudian Damai sebagai salah satu peserta Victory 3rd Piano Competition 2012, di Somerset Hotel Surabaya.

Dari rumah, kami berangkat dengan Bismillah. Saya bilang ke Damai, tidak perlu mikir kalah atau menang. Yang penting dia bermain sebaik mungkin, seperti yang sudah diajarkan oleh Kak Sari, guru pianonya. Soal hasil, kalaupun tidak mendapatkan nilai yang baik, itu berarti memang peserta yang lain masih lebih bagus memainkan pianonya, jadi dia harus lebih bersemangat lagi untuk belajar. Dan dia pun sepakat 🙂

Tidak jauh dari bayangan saya sebelumnya, begitu memasuki area hall tempat lomba dilangsungkan, kami bertemu dengan banyak hal menarik. Saat itu hall telah hampir penuh dengan anak-anak yang akan mengikuti lomba, plus orangtua dan supporter masing-masing. Dan tepat sesuai dugaan, kami merasa sedang berada di Hongkong! Hehehehe…. 😀 Ditambah lagi dengan kerudung saya, lengkaplah kami sebagai pasukan yang mencolok, berbeda dari umumnya orang yang ada di sana.

Sambil senyum-senyum, kami bergerak mencari tempat duduk. Sesekali saya menoleh ke kanan ke kiri, mencari-cari kalau ada sosok yang tampak “serupa” dengan kami, tapi tak menemukannya. Baru sekitar setengah jam berikutnya saya melihat sekitar 3 / 4 orang anak yang berkulit sawo matang datang dengan orangtua dan gurunya

Hal menarik kedua adalah saat MC menanyai sejumlah peserta yang duduk di deretan depan tentang asal sekolahnya, bermunculanlah sederet nama sekolah internasional yang ada di Surabaya. Hmmm…….oke, berarti benarlah kata beberapa orang teman bahwa kami termasuk orangtua yang cukup nekat memfasilitasi anak kami belajar alat musik yang tergolong “high class“, yang sebenarnya kurang cocok dengan ukuran kantong kami, hehehehe….. Tapi bagaimana lagi, berhubung sudah terlanjut nekat, ya….. diteruskan saja nekatnya. Meskipun terkadang agak minder juga 😀

Sesuatu yang menarik berikutnya adalah saat melihat beberapa anak seusia Damai yang mahir memainkan materi klasik yang cukup rumit. Saya sempat ngobrol dengan orangtua yang duduk di sebelah saya. Tidak sedikit di antara anak-anak beretnis Tionghoa itu yang sudah dileskan piano sejak umur 3 tahun. Bahkan ada yang sudah ikut sekolah musik, tapi di rumah juga masih dipanggilkan guru prifat. Wihihihihi…..sangat niat dan bermodal, teman-teman! Sementara untuk Damai, saya dan bapaknya hanya mampu mengikutkan di sekolah musik saja, itupun baru mulai tahun kemarin, saat umur Damai sudah 5 tahun lebih. Di rumah, dia cukup berlatih dengan saya, yang berusaha membantunya dengan hanya bermodal telinga dan kemampuan membaca partitur musik yang sangat terbatas. Sisa-sisa pelajaran Seni Musik jaman SD-SMP dulu, dan hasil belajar saat aktif di Marching Band waktu kuliah di UGM belasan tahun yang lalu.

Singkat cerita, hari itu kami merasa seperti tiga orang desa yang baru pertama kali masuk kota. Berulang kali tercengang dengan sesuatu yang kami lihat, sesekali cengar-cengir menahan minder, tapi tetap optimis dan bersemangat di tengah keterbatasan kemampuan yang kami miliki. Dan hasil hari itu adalah…… Damai mendapatkan Piala Harapan III untuk Kategori Solo Bebas Basic. Alhamdulillah…… selalu bersyukur atas rizqi-Nya 🙂

Iklan

4 thoughts on “Kisah Tiga Orang “Desa” yang Pertama Kali Masuk “Kota”

  1. jangan cepat menyerah…karena semua berawal dari pengalaman………krgagalan bukan manjadi penghalang tuk meraih kesuksesan masa depanmu..Damai…orang tua jangan minder harus tetap kasih support….buat Damai…sukses buat Damai:)

  2. jadi inget jaman saya masih SD bu. Nganterin mbak saya yang ikut festival musik (organ) dari Yamaha…berasa di Hongkong 😀
    btw, emang hongkong itu kayak gimana ya bu? haha *sotoy*

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s