Resiliensi dan Kemampuan Bertahan

Pada banyak kesempatan saya sering bertemu dengan sejumlah orang yang menyamakan antara resilience dengan survive, yang kemudian di-Indonesia-kan dengan istilah bertahan atau mempertahankan hidup. Apakah memang benar begitu? Kata “bertahan” sendiri dalam hal ini masih perlu diklarifikasi lebih lanjut, karena dapat dipahami secara beragam. Bertahan yang bagaimana? Bertahan dengan cara apa?

Seseorang di tengah himpitan ekonomi dapat saja bertahan dengan jalan mencopet, atau melakukan berbagai upaya untuk mengatasi keadaan dengan merugikan orang lain. Seseorang di tengah rasa sakit yang diderita akan mungkin bertahan, menjalani pengobatan dengan terus mengeluh, bersedih dan meratapi takdir Tuhan. Seseorang yang kemudian menjadi penyandang disabilitas karena suatu sebab dapat saja bertahan hidup dengan meminta-minta, mengharap belas kasihan orang lain. Lalu apakah demikian dengan konsep resiliensi?

Bagaimana dengan seseorang yang berusaha melawan himpitan ekonomi dengan berjuang keras menekuni, atau merintis pekerjaan secara mandiri tanpa mengambil hak orang lain? Tentu tidak jarang pula kita melihat atau mendengar orang-orang yang mampu menghadapi rasa sakit dengan tetap berpikir positif, dan menjalani proses penyembuhan tanpa banyak mengeluh. Juga para penyandang disabilitas yang tidak menjadikan disabilitasnya sebagai hambatan untuk tetap maju dan berhasil.

Dari contoh-contoh tersebut, kelompok manakah yang mungkin termasuk dalam kategori resilien? Dan apakah memang resiliensi sama dengan kemampuan untuk bertahan?

Menambahkan bahan berpikir tentang hal ini, berikut adalah ilustrasi dari Carver (1998) mengenai 4 kemungkinan respon yang dimunculkan individu terhadap adversity:

Nah… apakah ada insight yang muncul dari melihat gambar di atas?

Tulisan ini hanyalah sebuah stimulus. Bagi yang ingin memahaminya lebih lanjut, silakan mengakses penjelasannya di:

Carver, C.S. (1998). Resilience and Thriving: Isues, Models, and Linkages. Journal of Social Isues, 54(2), 245-266.

Atau di:

VanBreda, A.D. (2001). Resilience Theory: A Literature Review. Pretoria: South African Military Health Service, Military Psychological Institute, Social Work Research and Development.

Jadi, selamat berburu… 😀

Iklan

3 thoughts on “Resiliensi dan Kemampuan Bertahan

  1. Bu Wiwin, apakah resiliensi akademik itu ada? Dan siswa yg bagaimana yg dikatakan memiliki resiliensi akademik rendah? Mohon dibalas Bu. Terima kasih

    • Kemarin sudah saya balas di email mbak, tapi tidak apa-apa saya tulis ulang di sini.

      Jawabannya, bisa ada, bisa tidak.. Nah lho! Hehehe… 🙂

      Cicchetti & Rogosch (1997) telah menyatakan bahwa ada 2 komponen yang harus ada dalam mengidentifikasi resiliensi: (1) Paparan dari situasi yang sangat sulit / menekan, atau hambatan signifikan dalam hidup; dan (2) Penyesuaian positif yang dimunculkan individu dalam situasi tersebut.
      Nah, dari situ, coba anda lihat kembali, dalam konteks akademik yang anda maksud, ada tidak 2 prasyarat yang disebut di atas? Kalau ada, berarti konstruk resiliensi bisa dikaji/diidentifikasi.

      Melengkapi pernyataan Cicchetti & Rogosch, beberapa ahli lain (Werner, 1995; Luthar, 2000; Rutter, 2005, dsb) telah memperjelas pula bahwa stres atau adversity yang ditimbulkan oleh berbagai situasi tidak menyenangkan harus dalam taraf yang berat, mencerminkan kesulitan yang substansial dan berisiko tinggi, atau berpotensi memunculkan krisis yang berkepanjangan. Jadi bukan persoalan-persoalan kecil/sehari-hari yang memang mengganggu tapi relatif mudah untuk diselesaikan. Karena itu, ketika mengidentifikasi adanya situasi sulit dalam konteks akademik, pastikan bahwa itu memang kesulitan-kesulitan yang substansial, yang sangat berat, dan tidak mudah diatasi oleh individu.

      Demikian, semoga bisa sedikit membantu 🙂

  2. Ping balik: Resiliensi, Perspektif Life Span, dan Peluang dalam Penelitian (Materi dalam Seminar Nasional Pascasarjana) | Wiwin Hendriani

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s