Berteman yang Baik

Ceritanya berawal dari suatu malam di minggu yang lalu. Damai sibuk menggunting gambar-gambar bunga. Saya tanya untuk apa, dia bilang untuk dibagikan ke teman-temannya yang ikut mobil antar jemput sekolah. Biar teman-temanku senang, katanya. Tapi setelah itu dia mengatakan sesuatu.

“Ma, kasihan Vika…”

“Kenapa?” tanya saya.

“Aku nggak boleh sama Nila ngasih apa-apa ke Vika. Besok juga pasti aku nggak dibolehin sama dia ngasih ke Vika…”

“Lho, kok gitu?”

“Iya, katanya Nila, Vika nakal, soalnya nggak mau manggil Nila kakak, padahal kan dia lebih kecil dari Nila…”.Β Yang bernama Vika ini adik kelas Damai dan Nila. Masih TK A.

“Walaaah…ya nggak apa-apa to… Masa’ gitu aja nakal? Mungkin Vika-nya nggak biasa aja manggil kakak… Makanya lupa-lupa…”

“Iya, menurutku juga nggak apa-apa Vika manggil aku langsung Damai, nggak pakai kakak. Tapi Nila itu nggak mau… Keira juga”.

“Lha terus, kamu gimana? Mau ikut kata-kata Nila?” tanya saya kemudian.

“Ya enggak sebenarnya… tapi aku bingung, kalau Nila marah-marah gimana? Soalnya Nila itu suka banget marah-marah… Tapi aku kasihan sama Vika” jawab Damai.

“Mai, kamu sudah tahu mana yang benar kan? Kalau kamu ikut maunya Nila, berarti kamu malah ikut yang salah. Justru harusnya kamu ngingatkan Nila pelan-pelan, kalau memusuhi teman itu nggak baik. Dikasih tahu aja Nilanya kalau mungkin Vika lupa atau belum terbiasa manggil kakak. Trus kalau bagi-bagi sesuatu di mobil jemputan, ya semua harus dibagi. Jangan mbeda-bedakan teman…”

“Iya wes Ma, besok aku cari cara ngasih ini ke Vika, biar Nila nggak marah-marah”

Sampai disitu saya percaya bahwa ketika ia sudah merencanakan sesuatu, esoknya Damai pasti akan benar-benar mengusahakan cara yang dimaksudnya. Tapi rupanya cerita terus berlanjut sampai pada kejadian di mobil jemputan hari ini. Siang tadi sepulang sekolah Damai menceritakannya pada saya.

“Ma, tadi itu ada kejadian lagi. Kan pas mau ngantar ke rumahnya Ayu, Nila sama Keira itu nggak bolehin Vika ikut-ikutan ngobrol. Vika dibiarin duduk sendiri. Dibilangnya Vika itu pelit, Vika itu sombong, padahal enggak lo. Trus aku hibur Vika. Kubilang, sudah biarin aja… Kan kasihan Ma, Vikanya itu denger omong-omongannya Nila sama Keira. Dia pasti sedih…”

Hmm…keputusan yang bagus… πŸ™‚

“Eeeh…. habis itu Nila bilang, Damai, kamu pilih temenan sama Vika apa temenan sama aku sama Keira?! Trus kubilang aja, aku mau temenan sama semuanya! Aku nggak mau milih salah satu. Semuanya! Tapi memang habis itu aku duduk agak dekat sama Vika, nemenin Vika, soalnya Vika sendirian. Eeeh…. agak lama, nggak tahu kenapa tiba-tiba Nila ndeketin Vika, trus minta maaf! Nila mau minta maaf sama Vika, Ma!” jelas Damai dengan ekspresi yang menampakkan rasa senang.

“Itu hebat nduk…kamu sudah melakukan hal yang benar… Nila juga baik, karena akhirnya mau meminta maaf…”

“Tapi Keira tetep nggak mau minta maaf… Cuma Nila tok yang mau…”

“Mungkin besok… Mungkin tadi Keira masih malu… Jadi nggak apa-apa menyusul minta maafnya…”

Hal sederhana ini sungguh membuat mama bangga padamu, Mai… πŸ™‚

Catt: Teman-teman Damai dalam cerita ini sengaja tidak dituliskan dengan nama yang sebenarnya πŸ˜‰

Iklan

5 thoughts on “Berteman yang Baik

  1. saya mau berteman dengan semuaaaaaaaaa nyaaaaa Mama..
    alhasil Dek Damai berhasil berhasil berhasil horeee ^^
    sering banget ngalamin yang seperti ini bu *eh

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s