Beberapa Penelitian Terdahulu Tentang Model Resiliensi

Tulisan ini melanjutkan penjelasan tentang resiliensi yang telah diuraikan pada beberapa posting sebelumnya.

Model adalah suatu representasi realita, yang melukiskan aspek tertentu dari dunia nyata yang relevan dengan masalah yang diteliti (Kuntoro, 2009). Model  membuat eksplisit hubungan bermakna di antara aspek, dan model memungkinkan perumusan proposisi yang dapat diuji secara empiris berkenaan dengan asal dari hubungan tersebut. Pengujian dimaksudkan agar pemahaman yang lebih baik atas bagian tertentu dari dunia nyata dapat dicapai. Model juga digunakan untuk mengatasi masuknya intuisi ke dalam fenomena yang tidak dapat diamati secara langsung.

George  (1980, dalam Cleveland, 2003) mendefinisikan model sebagai seperangkat konsep yang saling berhubungan, yang dirumuskan untuk mampu memberikan penjelasan terhadap area tertentu dari perilaku manusia. Seperti diketahui, sebuah perilaku akan terbentuk dengan dipengaruhi oleh berbagai macam faktor baik dari sisi internal maupun eksternal individu. Oleh karena itu, sebuah model akan menunjukkan keterkaitan antar konsep yang dapat membantu memahami bagaimana sebuah perilaku dapat terbentuk. Menurut Masten (dalam Reich, 2009), sebuah model resiliensi harus sedapat mungkin mencakup tiga hal, yaitu prediktor-prediktor positif, proses, dan outcome yang dimunculkan.

Dalam lingkup kajian resiliensi, beberapa model telah dirumuskan oleh peneliti terdahulu, baik dalam konteks individual maupun keluarga. Berikut ini adalah beberapa diantaranya:

1. Haase, dkk. (1999, dalam Huang, 2009) melalui penelitian grounded yang dilakukannya dengan menggunakan perspektif perkembangan rentang hidup dan model berbasis makna, telah merumuskan model resiliensi remaja (Adolescent Resilience Model) yang menjelaskan proses dan hasil resiliensi pada remaja penderita kanker dan penyakit kronis yang lain. Dalam model ini, resiliensi dan kualitas hidup merupakan hasil dari interaksi antara tiga faktor protektif dan dua faktor risiko. Tiga faktor protektif yang dimaksud adalah: (a) Faktor protektif individual (koping yang bersifat berani dalam menghadapi situasi yang menekan dan pemaknaan terhadap situasi); (b) Faktor protektif keluarga (atmosfer keluarga dan dukungan/sumberdaya keluarga); dan (c) Faktor protektif sosial (sumber daya pelayanan kesehatan dan integrasi sosial). Sementara kedua faktor risiko yang dihadapi oleh subjek penelitian meliputi: (a) Faktor risiko individual (koping defensif); dan (b) Faktor risiko yang terkait dengan penyakit (ketidakpastian rasa sakit dan distres yang terkait dengan simptom penyakit).

2. Horton dan Wallander (2001) merumuskan model resiliensi ibu yang memiliki anak berpenyakit kronis. Dalam model tersebut terdapat keterkaitan antara persepsi terhadap harapan, dukungan sosial, dan distres yang dialami oleh ibu.

3. Pada tahun 2003, model resiliensi anak yang dirumuskan Murray menjelaskan bahwa karakteristik individual dan pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan teman sebaya, sekolah, keluarga dan masyarakat akan mempengaruhi perkembangan dan outcome yang dihasilkan (Huang, 2009).

4. Fergus dan Zimmerman (2005, dalam Huang, 2009; Cleveland, 2003) melakukan studi tentang tiga model resiliensi, yaitu: (a) The Compensatory Model yang menjelaskan situasi dimana faktor resiliensi dapat berfungsi dalam menghadapi faktor risiko; (b) The Protective Model yang menjelaskan tentang aset atau sumberdaya yang dapat mereduksi efek dari faktor risiko dalam memunculkan berbagai outcome negatif dalam diri individu; dan (c) The Challenge Model yang menjelaskan sifat asosiasi antara faktor risiko dengan outcome. 

Sementara itu dalam konteks keluarga, beberapa peneliti yang telah merumuskan model resiliensi antara lain McCubbin dan Patterson (1982). Model resiliensi tersebut adalah model ABCX ganda (Double ABCX Model) yang merupakan hasil adaptasi dari model ABCX dari Hills (1949) tentang pengaruh berbagai macam stresor terhadap keluarga. Pada tahun 1996 McCubbin dan McCubbin mengembangkan hasil studinya dengan merumuskan kembali Resiliency Model of Family Stress, Adjustment and Adaptation yang lebih komprehensif dalam menjelaskan tentang resiliensi keluarga (VanBreda, 2001).

Iklan

8 thoughts on “Beberapa Penelitian Terdahulu Tentang Model Resiliensi

    • Hehehe….monggo kalau ada waktu untuk buka-buka blog ini lagi, sudah saya berikan penjelasannya sedikit di beberapa tulisan terdahulu, pada kategori “Tentang Resiliensi” 🙂

  1. Assalamualaikum, bu wiwin yang terhormat, saya ingin menyampaikan beberapa pertanyaan.
    yang pertama adalah: Apakah dengan munculnya model resiliensi (McCubbin & McCubbin 1993) berarti bahwa model model terdahulu tidak berlaku?
    Atau masing-masing model baik ABCX, ABCX Ganda, maupun FAAR memiliki spesifikasi tersendiri?

    lalu berdasarkan pertimbangan apa seorang peneliti menggunakan model-model tersebut?

    • Wa’alaikumsalam…
      Maaf saya lama tidak membuka blog, sehingga baru merespon sekarang.
      Setiap perbaikan sebuah teori pada umumnya ditujukan untuk melengkapi atau memperbaiki sesuatu dari teori terdahulu. Tapi apakah itu berarti secara otomatis menggugurkan teori sebelumnya, menurut saya nanti dulu. Karena bisa jadi tidak.
      Saran saya, sebelum kita memutuskan kedudukan sebuah teori, lebih baik kita baca tuntas dulu kronologis perkembangan atau perumusannya. Cari sumber yang lengkap tentang teori yang dimaksud sehingga penjelasannya bisa utuh.
      Tentang pemilihan teori mana yang akan digunakan ada beberapa hal yang bisa dijadikan pertimbangan, antara lain:
      – Kesesuaian dengan konteks persoalan yang diangkat (resiliensi individu atau keluarga, resiliensi pada anak atau individu dewasa, dsb)
      – Kesesuaian dengan pertanyaan dan tujuan penelitian (apakah bertujuan menjelaskan resiliensi sebagai sebuah proses, menguraikan komponen-komponen resiliensi, atau yang lainnya)
      – dll.

  2. Assalamualaikum Wr Wb…
    Yth Ibu Wiwin… mohon maaf sudah sekitar 6 bulan ini saya sibuk membaca blog ibu secara diam diam 🙂 karena saya sangat tertarik dengan model resiliensi yang sudah didalam bu wiwin, saya ingin sekali belajar tentang resiliensi yang berfokus pada keluarga. Saya senang mendapatkan banyak referensi berdasarkan informasi di blog bu Wiwin, e-book dan beberapa jurnal yang sangat melengkapi bahan bahan tentang resiliensi yang sudah saya kumpulkan selama ini. bolehkah saya bertanya bu…. jadi untuk resiliensi keluarga itu memang berbeda ya bu prosesnya dengan resiliensi individu… ?
    terima kasih banyak sebelumnya bu Wiwin

    • Wa’alaikumsalam..
      Halo Mba Rizki Fitri, terima kasih atas pertanyaannya.
      Jadi tentang resiliensi keluarga, sepanjang pemahaman saya letak bedanya adalah karena di dalam keluarga terdapat sejumlah individu yang saling berinteraksi antara satu dengan yang lain. Mereka adalah individu-individu dengan karakter yang beragam, dan tidak selalu seluruhnya tangguh menghadapi beban persoalan yang signifikan. Resiliensi keluarga ditentukan oleh interaksi antar individu tersebut. Bagaimana antar mereka yang berbeda karakter dapat menemukan satu koping dan adaptasi yang saling menguatkan. Karena itulah modelnya menjadi lebih rumit, tidak seperti resiliensi individu.

      • Terima kasih atas jawabannya bu Wiwin… saya akan mencoba belajar lebih banyak lagi berdasarkan point yang sudah bu wiwin sampaikan..

        Wasalamualaikum 🙂

  3. Ping balik: Resiliensi, Perspektif Life Span, dan Peluang dalam Penelitian (Materi dalam Seminar Nasional Pascasarjana) | Wiwin Hendriani

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s