Saat Anak Menangis Meraung-Raung…

Belakangan ini saya sering mendengar beberapa orang anak tetangga yang berusia 2-4 tahun menangis meraung-raung sampai suaranya benar-benar membuat perasaan saya ikut campur aduk, antara terganggu, kasihan, dan juga penasaran. Apalagi kalau hal itu tampak sudah menjadi kebiasaan, padahal orangtua dan pengasuh mereka setahu saya juga bukan tipe yang suka bertindak kasar terhadap anak-anak.

Saya jadi teringat beberapa kejadian serupa, yang salah satunya kebetulan saya amati secara langsung di sebuah rumah makan. Saya sudah berada di sana ketika kemudian datang seorang ibu dan anaknya, serta seorang perempuan dewasa lain yang tampak seperti teman atau saudara ibunya. Si anak kurang lebih berusia 3 tahun, asyik dengan mainan di tangan ketika berjalan masuk, sementara ibu dan temannya asyik mengobrol. Sewaktu si ibu beranjak memesan makanan, anak kecil itu mengatakan  bahwa ia ingin es krim. Tidak tahu kenapa, si ibu tidak merespon, melainkan tetap kusyuk berbicara dengan temannya. Si anak pun mengulangi permintaannya beberapa kali dengan nada suara yang mulai merengek. Ketika rengekan bertambah keras, si ibu akhirnya merespon dengan membentak bahwa ia tidak boleh makan es krim. Apa yang terjadi sesudahnya? Huaaaa……. si anak mendadak menangis meraung-raung dengan suara yang super duper keras sampai seisi rumah makan menoleh memperhatikan mereka. Tidak puas menjerit-jerit, anak itu pun bergulung-gulung di lantai. Heboh deh pokoknya! Sadar diperhatikan banyak orang, si ibu ikutan teriak menenangkan anaknya dan setelah itu ia pergi membelikan es krim yang diminta. Begitu tahu bahwa ibunya membelikan es krim, seketika itu pula tangisan anak yang bak kapal pecah itu berhenti, hehehe…. Setelah itu, si anak sudah disibukkan dengan segelas es krim yang yummy, seolah-olah sebelumnya tidak pernah terjadi apa-apa.

Kadang orangtua memang tidak sadar bahwa respon mereka yang tidak tepat terhadap anak justru semakin memperkuat perilaku-perilaku negatif yang kemudian dimunculkan. Pada contoh kasus di atas misalnya, sebenarnya si anak sudah berlaku benar dengan meminta es krim secara baik-baik. Tapi hal yang benar ini tidak segera direspon dengan penjelasan yang tepat. Sebenarnya kalau mau, si ibu bisa menghentikan obrolannya barang sebentar, lalu mengatakan, “Sebentar ya Dek…nanti Ibu belikan setelah ini, Adek tunggu aja ya, duduk yang manis”. Atau bisa saja kalau memang sedang tidak boleh makan es krim si anak diberi penjelasan singkat, “Nak, kemarin baru saja makan es krim, kalau hari ini makan es krim lagi nanti bisa jadi pilek. Kalau sudah pilek, harus minum obat deh… Kan nggak enak. Maem ayam aja ya, kan kamu juga yang tadi minta maem ayam…”. Atau mungkin jawaban yang lain lagi, “Dek, uangnya Ibu nggak cukup buat beli es krim. Kan tadi Adek sudah dibelikan mainan sama Ibu, jadi sekarang maem aja. Beli es krimnya besok kalau kita kesini lagi…”. Dan berbagai alternatif jawaban lain yang sebenarnya bisa dibuat. Tapi sekali lagi kalau saja si ibu mau… 😉

Dengan kejadian itu, anak yang merupakan pembelajar aktif akan menyimpulkan bahwa jika ingin permintaannya dituruti oleh orangtua, ya dia harus menangis meraung-raung dulu. Simpulan yang kedua adalah, bahwa meskipun awalnya orangtua melarang, tapi asal dia menangis bombay, maka permintaannya pasti akan dituruti juga akhirnya. Jadilah hari-hari berikutnya ketika menginginkan sesuatu dia juga melakukan aksi yang sama. Hehehe…. pinter ya!

Tadinya saya sempat ragu apakah raungan tangis anak tetangga yang saya dengar belakangan ini pola pembiasaannya serupa dengan contoh di rumah makan itu dan beberapa kejadian lain yang saya temui di tempat yang berbeda. Penasaran, saya pun menyelidik bak detektip. Dan ternyata betul dugaan saya, ada respon-respon yang terlambat diberikan dan justru diberikan setelah anak menangis. Dan saat anak mengamuk, maka segala permintaannya akan dituruti dengan maksud untuk menghentikan amukannya, meskipun awalnya sebenarnya dilarang. Eng ing eeeng…. 😀

Iklan

5 thoughts on “Saat Anak Menangis Meraung-Raung…

  1. itu juga berlaku bagi bayi ya bu. sperti bayi saya ketika awalnya anteng lalu saya tinggal masak di dapur, lama2 dia lapar sepertinya lalu mulai merengek, awalnya rengekanya biasa saja…saya masih mengabaikanya hanya sesekali berteriak “sebentar sayang…” lama2 nagis keras sampai menjerit..(sampai saya ngeri). setelah disusuin langsung reda.^-^
    tangisan adalah bahasa anak untuk berkomunikasi sayangnya banyak orangtua yang tak peka, bahkan terkadang memperlakukan anak/bayi seperti orang dewasa

    • 1. Setidaknya dipastikan dulu bahwa dia menangis bukan karena ada persoalan dengan kondisi fisiknya (merasakan kesakitan/ketidaknyamanan di bagian tubuh tertentu)
      2. Cari tahu, pada saat apa dia mulai memunculkan tangis yang “tidak jelas maunya” itu. Kalau kita tahu situasi pemicunya, kita akan lebih mudah mengetahui sebab munculnya tangisan + bagaimana cara mengatasinya
      3. Beberapa anak menunjukkan tangis yang semacam itu untuk menarik perhatian orangtuanya. Apa sebabnya? Tidak lain karena ia merasa kurang diperhatikan, dan menandai bahwa orangtuanya baru memperhatikannya setelah dia berulah. Kalau sudah seperti ini, jalan satu-satunya adalah kita yang harus mau mengkoreksi dan memperbaiki sikap serta perilaku kita pada anak..
      Begitu kira-kira.. 🙂

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s