Resiliensi Keluarga

Dalam konteks keluarga, konsep resiliensi mendeskripsikan kondisi keluarga yang mampu beradaptasi dan berhasil melalui stres, baik di saat sekarang maupun waktu-waktu berikutnya (Hawley & DeHaan, 1996, dalam Kalil, 2003). Keluarga yang resilien akan merespon secara positif setiap kesulitan dengan menggunakan cara-cara yang unik, sesuai konteks, tingkat permasalahan, serta dengan mempertimbangkan sudut pandang seluruh anggota keluarga. 

Menurut National Network for Family Resiliency (1995), resiliensi keluarga adalah kemampuan keluarga untuk menggunakan kekuatan yang dimilikinya untuk menghadapi setiap kesulitan, hambatan maupun tantangan hidup secara positif. Hal ini mencakup pula kemampuan keluarga untuk kembali ke level kondisi sebelum terjadinya krisis. Artinya, ketika suatu saat keluarga menghadapi permasalahan berat yang membuat situasi keluarga menjadi terpuruk dan penuh tekanan, dengan kemampuan yang dimiliki keluarga tersebut dapat mengupayakan untuk mengatasi persoalan secara tuntas dan segera kembali ke kondisi ideal/stabil seperti saat persoalan belum dihadapi.

Kehidupan di abad 21 ini semakin penuh dengan perbedaan yang memberi jarak antara manusia satu dengan lainnya, maupun juga antar keluarga. Lingkungan yang semakin beragam, budaya yang terus berkembang dan gaya hidup masyarakat yang banyak berubah memungkinkan semakin tingginya tingkat stres yang akan dialami oleh setiap individu maupun keluarga. Karenanya, resiliensi menjadi satu faktor yang sangat penting dan semakin dibutuhkan.

Menurut Hawley and DeHaan 1996 (dalam Kalil 2003), resiliensi keluarga mendeskripsikan kondisi keluarga yang mampu beradaptasi dan berhasil melalui stress, baik di saat sekarang maupun waktu-waktu berikutnya. Keluarga yang resilien akan merespon secara positif setiap kesulitan dengan menggunakan cara-cara yang unik, sesuai konteks, tingkat permasalahan, kombinasi interaktif antara faktor-faktor resiko dan protektif yang dimiliki, serta dengan mempertimbangkan sudut pandang seluruh anggota keluarga.

Sementara itu, Olson & DeFrain (2003) mendefinisikan resiliensi keluarga sebagai sebuah kondisi keluarga yang kuat dan kokoh sehingga keluarga tersebut mampu menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan. Lebih lanjut dikatakan bahwa resiliensi akan dimiliki oleh keluarga yang committed, yang diantara individu di dalamnya dapat saling menghargai satu sama lain, menghabiskan waktu bersama, mampu berkomunikasi secara jelas dan mampu menghadapi krisis dengan cara yang positif.

Terdapat sejumlah hal dalam keluarga yang diidentifikasi sebagai faktor-faktor risiko, yang berpotensi memunculkan persoalan baik pada level individual, keluarga itu sendiri, komunitas dan lingkungan masyarakat yang lebih luas. Faktor-faktor resiko tersebut antara lain meliputi: kemiskinan, pengangguran, perceraian, kematian, penyakit kronis, dan ketidaksuburan reproduksi (Kalil, 2003).

Eldridge (1994) juga memandang perkembangan teknologi, sosial, budaya dan politik sebagai sumber stres kolektif yang secara langsung mempengaruhi kehidupan serta kondisi keluarga. Sebagai contoh, perkembangan teknologi saat ini menuntut persaingan semakin ketat, dalam bidang industri misalnya penggunaan tenaga manusia semakin berkurang, yang berdampak pada PHK. Jika seorang kepala keluarga, yang tadinya menjadi sumber penghasilan utama, dipecat. Hal ini akan menimbulkan stres tersendiri tidak hanya bagi kepala keluarga itu sendiri tapi turut serta mempengaruhi anggota keluarga yang lain yang secara tidak langsung juga akan berpengaruh pada kondisi keluarga tersebut secara keseluruhan.

Namun tidak demikian jadinya jika keluarga tersebut memiliki karakteristik perilaku positif dalam menghadapi stresor yang ada. Karakteristik perilaku yang positif tersebut seperti sikap percaya dan menghargai satu sama lain, tradisi kebersamaan dalam keluarga, komunikatif, kooperatif dan saling memaafkan ketika seseorang diantaranya melakukan kesalahan atau hal-hal yang tidak diinginkan, serta komitmen yang kuat terhadap kepentingan dan kebaikan keluarga. Atau dengan kata lain, karakteristik positif ini merupakan aset atau modal keluarga untuk mampu bertahan, jika muncul badai atau stresor yang menggoncang ketahanan keluarga.

Menurut Cole, et al. (1999), berbagai karakteristik positif tersebut memiliki kontribusi untuk memperkuat faktor protektif keluarga. Faktor protektif ini membantu keluarga untuk tetap bertahan ketika menghadapi berbagai macam stresor selama perjalanan hidupnya. Semisal, tradisi setiap anggota keluarga untuk berbagi cerita dan menyelesaikan setiap permasalahan bersama-sama, kebiasaan untuk berlibur bersama, serta mengenalkan setiap teman pada anggota keluarga yang lain akan dapat mempererat ikatan di antara setiap anggota keluarga. Eratnya ikatan tersebut akan  membuat setiap anggota keluarga saling mendukung satu sama lain sehingga ketika krisis atau persoalan terjadi, keluarga akan memiliki kesiapan yang lebih untuk menghadapinya sekaligus kekuatan untuk mengatasi dengan cara-cara yang efektif, tepat sasaran dan tanpa menimbulkan persoalan baru.

Iklan

5 thoughts on “Resiliensi Keluarga

    • Tentang lama waktu, tentu tidak dapat digeneralisasikan, sebab kompleksitas persoalan yang dihadapi, juga berbagai aspek yang terdapat pada masing-masing keluarga tentu berbeda satu sama lain.
      Ada keluarga yang mampu menunjukkan respon positif terhadap problem berat yang dihadapi pada saat itu juga, dalam hitungan hari, atau ada pula yang membutuhkan waktu hingga beberapa minggu..
      Keluarga resilien yang mampu merespon secara positif situasi yang sulit dan menekan bukan berarti mereka kebal terhadap persoalan sehingga kemudian tidak merasakan stres. Akan tetapi mereka memiliki koping dan adaptasi yang baik, sehingga mampu memilih respon yang tepat dan tidak membawa pada kondisi psikologis keluarga semakin larut dalam emosi-emosi negatif.

  1. Ping balik: Resiliensi, Perspektif Life Span, dan Peluang dalam Penelitian (Materi dalam Seminar Nasional Pascasarjana) | Wiwin Hendriani

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s