Perhatikan Kata-Kata Anda!

Perhatikan kata-kata anda, jika tidak ingin hal itu berbalik mengenai diri anda sendiri. Saya pernah mengalaminya. Banyak kali malah, hehehe… Suatu hari misalnya, mendadak Damai sering menjawab dengan cara yang menurut saya tidak menyenangkan saat saya minta untuk melakukan sesuatu. Semisal saat saya minta dia untuk memundurkan sedikit posisi duduknya ke belakang agar tidak terlalu dekat dengan pesawat TV, dia menjawab, “ Aalllaaah…” sambil cemberut. Waktu yang lain saat saya ingatkan untuk makan, dia juga menjawab “Aallaah Mama ini… sebentar Ma…”. Ketika saya ajak mandi juga begitu jawabannya. Lama-lama saya kesal. Penasaran juga dari mana dia dapat contoh kata-kata itu?

Selidik punya selidik, ternyata itu kata-kata yang sering diucapkan Upin dan Ipin ke Kak Ros. Akhirnya saya bilang ke Damai untuk tidak menjawab dengan cara seperti itu karena tidak sopan. Karena tahu saya serius memperingatkannya, dia cukup mengindahkan kata-kata saya. Tapi yang terjadi beberapa waktu sesudahnya adalah… justru saya yang terpeleset, mengucapkannya saat Damai meminta sesuatu. Sudah tentu dia protes keras, “Kok Mama bilang aalllah? Kemarin aku nggak boleh…”. Sadar dengan kekeliruan itu, buru-buru saya minta maaf… 😀

Cerita yang lain adalah tentang satu kata yang disebut “sabar”. Sudah menjadi hal yang biasa sepertinya jika anak-anak kecil sulit untuk mengendalikan keinginannya. Demikian pula dengan Damai. Ketika ingin sesuatu, maunya cepat. Seperti saat menunggu pesanan makanan datang ketika kami makan di luar, atau saat menunggu waktu berangkat ketika kami akan bepergian ke suatu tempat. “Ayo to Ma….”, “Masih lama ya…?”, atau “Kok lama sih…?”, adalah kata-kata yang sering diucapkannya ketika tidak sabar menunggu. Dan seperti sebuah template, jawaban saya dan suami adalah sama, “Sabar dong Mai…”, hihihi….

Nah, di hari yang lain, saat saya sedang menunggu tukang sayur yang datangnya kesiangan, tanpa sadar saya pun mengomel, karena saya khawatir tidak bisa segera masak, padahal saya harus berangkat ke kampus lebih pagi. Ketika mendengar omelan saya, inilah celetukan Damai, “Ya sabar dong Ma…! Mama ini nggak sabar-sabar…”. Selesai bicara begitu, dia langsung ngeloyor pergi… ^.^

Karena pengalaman itu, saya lebih hati-hati lagi untuk berbicara, dan berusaha untuk bersikap lebih konsisten. Ketika saya mengajarkan tentang nilai atau kebiasaan tertentu, berarti sebisa mungkin saya juga harus melakukannya. Sebaliknya, jika saya melarang sesuatu maka saya pun tidak boleh melakukannya. Paling tidak saya harus menyiapkan penjelasan yang tepat dan dapat diterima oleh anak, jika suatu saat terpaksa melanggar perkataan saya sendiri.

Iklan

5 thoughts on “Perhatikan Kata-Kata Anda!

  1. bu, waktu kecil saat saya mendapati orang tua melanggar perkataan mereka sendiri, penjelasan mereka adalah: kalo orang tua gakpapa, kalo anak2 gak boleh.
    gmn menurut bu wiwin?

    • Terima kasih komennya, Dewi. Waktu itu perasaanmu gimana Wi? Kesal pasti ya? Lalu apa efeknya kemudian? hehehe… ^^
      Kalau saja itu hanya sesekali terjadi, mungkin tidak terlalu besar dampaknya pada anak, karena ia bisa melihat bahwa di hari-hari yang lain orangtuanya konsisten dengan perkatannya sendiri.
      Tapi tentu berbeda responnya kalau ketidak-konsistenan itu sering terjadi.
      Lambat laun anak akan memandang orangtuanya sebagai sosok yang hanya bisa bicara tapi tidak bisa melakukan.
      Jadi tidak heran jika kemudian saat menginjak remaja mereka menjadi sulit untuk diatur, sulit untuk diberitahu, karena mereka menjadi enggan untuk mendengarkan kata-kata orangtuanya lagi 🙂

      • wah bu, kalo saya jawab dsini ntar jd ajang curhat dong, hehe..
        intinya… merasa bahwa dunia ini tak adil :p
        dunia remaja saya baik2 saja sih bu. cuma gini bu, krn saya sekarang jg udah jd ortu, saat ortuku tdk konsisten lg (atau kejadian lain ttg cara menuturi yg krg baik mnrt teori psikologi ^_^), saya bilang kalo nanti saya tidak akan mendidik anak saya dg cara seperti itu. boleh ga sih bu? takutnya dbilang ga sopan.

        • Hahaha….alhamdulillah kalau ternyata dulu tidak berefek besar ya Wi. Berarti ketidak-konsistenan itu tidak setiap saat terjadi.
          Soal yang sekarang….tantangannya menjadi 2, menerapkan ilmu psikologi anak sekaligus psikologi usia lanjut. Nah lho, hehehe…. 😀
          Aku bisa membayangkan situasinya karena sedikit banyak pernah mengalaminya juga. Prinsip yang harus dipegang adalah bahwa kita akan berusaha mengasuh dan mendidik anak kita dengan baik, dengan cara yang kita pelajari sekarang maupun juga mengkombinasikannya dengan cara-cara orangtua dulu yang memang sesuai untuk diterapkan, karena tidak semua cara orangtua kita dulu itu tidak tepat lho.. 😉
          Jika dalam prakteknya kita sering berbenturan dengan kemauan orangtua, yang penting adalah bagaimana kita bisa mengkomunikasikan dan menjelaskan dengan baik kepada mereka. Bagaimanapun wajar jika orangtua kita merasa lebih tahu karena memang pengalaman hidupnya lebih banyak dari kita, dan itu harus kita hargai. Jadi tidak perlu mendebat dengan keras secara langsung ke mereka, nanti malah terjebak debat kusir yang panjang, apalagi kalau orangtua sampai tersinggung. Menghadapi lanjut usia yang tersinggung dan sakit hati juga ga gampang soalnya… 😀
          Berusaha menjelaskan cara kita atau ketidaksetujuan kita terhadap mereka dengan sopan menurutku tetap pilihan yang lebih baik. Butuh waktu memang, tapi bisa diusahakan kalau kita mau. Aku saja akhirnya bisa Wi, tentu kamu juga 😉

          • amiin…., semoga saya jg bisa y bu. utk menjelaskan cara kita mendidik anak, selain butuh waktu lama, butuh kekonsistenan jg ^^, jd ga cuma thd anak.
            yaahh…, gara2 saya sihh dulu krg banyak belajar ttg psi usia lanjut, ga sebrp tertarik soalna, hehe… lbh sk bljr psi anak dan psi keluarga 🙂

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s