Keterlibatan Orangtua Dalam Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Abstract

 The aim of this study is to explore parent involvement to exceptional children education. This study is very important because the result of Indonesian Society for Special Needs Education (ISSE) survey show that the sum of exceptional children in Indonesia increase every year. Like normal children, the exceptional children are also have chance to develop their life skill and ability, through education and training. Hallahan and Kauffman (1988), Hardman (2002), Heward (2003), and Hunt and Marshall (2005) note that the effectiveness of education and training program for exceptional children are depend on family support and involvement.

This is a qualitative research with four parents of exceptional children as the subjects. The kind of children disabilities are visual impairment, hearing impairment, mentally retardation, and learning disability. All subjects live in Surabaya and selected by purposive method. Interview is used here for taking the research data.

According to data analysis, only one of four parents shows the totally involvement to exceptional children education. That involvement is influenced by four factors, which are: parent perception to formal education of exceptional children, parent perception to children disability, parent expectation to children, and the understanding of the importance of parent role to children development.

 Keywords: Parent Involvement, Exceptional Children, Education

PENGANTAR

Menurut data Indonesian Society for Special Needs Education (ISSE) – lembaga yang memfokuskan perhatiannya pada pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia -, terdapat lebih dari 2,6 juta orang anak berkebutuhan khusus yang berusia sekolah di negara ini. Dari jumlah tersebut, yang mengikuti pendidikan di sekolah-sekolah khusus hanya sekitar 48 ribu orang, atau kurang lebih 1,83% saja (Anak Berkebutuhan Khusus Diterima di Sekolah Umum, 2003). Sementara berdasarkan perhitungan Depdiknas, jumlah anak berkebutuhan khusus yang berada pada usia sekolah adalah sekitar 1,25 juta anak. Menurut Direktur Pendidikan Luar Biasa (PLB) Depdiknas, Mudjito, hanya kurang lebih 55 ribu dari jumlah tersebut yang tertampung di Sekolah Luar Biasa (SLB), dan hanya 6 ribu yang dapat menikmati sekolah inklusi (Pendidikan Anak Cacat yang Terlupakan, 2005).

Munculnya berbagai gangguan/hambatan perkembangan pada individu berkebutuhan khusus merupakan fenomena yang perlu ditangani lebih lanjut agar penderitanya tetap dapat menjalani kehidupan dengan baik dan mengoptimalkan sekecil apapun kemampuan yang dimiliki. Hal ini penting karena terlepas dari berbagai keterbatasannya, setiap manusia memiliki hak yang sama untuk tumbuh, berkembang, diterima dan menjalankan peran-peran tertentu di masyarakat.

Upaya mengoptimalkan perkembangan anak dan remaja berkebutuhan khusus tidak lain adalah dengan memberikan pendidikan dan latihan yang dibutuhkan, baik yang terkait dengan kemampuan hidup sehari-hari, materi akademis, maupun ketrampilan kerja. Pendidikan untuk individu berkebutuhan khusus ini dikenal dengan istilah Pendidikan Luar Biasa (PLB).

Program pendidikan luar biasa untuk anak dan remaja berkebutuhan khusus memiliki spesifikasi yang tentu saja berbeda dari program pendidikan yang diperuntukkan bagi anak dan remaja dalam kondisi normal. Program pendidikan ini secara umum ditujukan untuk mempersiapkan mereka dalam menghadapi kehidupan ‘yang sebenarnya’ setelah mereka lepas dari lingkungan sekolah (Hunt dan Marshall, 2005).

Secara rinci, tujuan yang dimaksud meliputi (Reformasi Kebijakan Pendidikan Luar Biasa):

  1. Mengembangkan kehidupan anak didik dan siswa yang sebagai pribadi, sekurang-kurangnya mencakup upaya untuk memperkuat keimanan dan ketaqwaan, membiasakan berperilaku yang baik, memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar, memelihara kesehatan jasmani dan rohani, memberikan kemampuan untuk belajar, mengembangkan kepribadian yang mantap dan mandiri;
  2. Mengembangkan kehidupan anak didik dan siswa sebagai anggota masyarakat yang sekurang-kurangnya mencakup upaya untuk memperkuat kesadaran hidup beragama, dalam masyarakat, menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam lingkungan hidup, memberikan pengetahuan dan ketrampilan dasar untuk berperan serta dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara;
  3. Mempersiapkan siswa untuk dapat memiliki ketrampilan sebagai bekal untuk memasuki dunia kerja; dan
  4. Mempersiapkan anak didik dan siswa untuk mengikuti pendidikan lanjutan dalam menguasai isi kurikulum yang disyaratkan.

Terkait dengan hal tersebut, maka dalam prosesnya program pendidikan ini tetap menekankan pada upaya membimbing para siswa untuk mampu menjalani hidupnya secara mandiri, dengan mengoptimalkan kemampuan indera atau bagian-bagian tertentu dari dirinya yang masih dapat difungsikan.

Untuk mencapai hasil yang maksimal, setiap proses pendidikan selalu membutuhkan adanya kerjasama antara pihak sekolah dengan orangtua. Terlebih, Mengutip pendapat beberapa ahli, Sindhunata (2006) menjelaskan bahwa pendidikan pada prinsipnya justru harus dimulai dari rumah. Sekolah bukanlah pengganti pendidikan di rumah, tetapi lebih merupakan pelengkap atas apa yang tidak dapat diberikan di rumah. Menyambung pernyataan tersebut, menurut Buchori (2006), pendidikan akan gagal tanpa partisipasi orangtua. Salah satu syarat utama yang harus dipenuhi orangtua dalam mengupayakan kerjasama yang baik dengan pihak sekolah agar proses pendidikan berlangsung optimal adalah dengan memberikan perhatian penuh terhadap pertumbuhan anak sebagai pribadi, dan bukan hanya perhatian terhadap apa yang dicapai anak.

Demikian pula dengan pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus. Antara orangtua dan anggota keluarga yang lain dengan lembaga pendidikan harus dapat bekerja sama dengan baik. Hal ini sesuai dengan paparan di berbagai literatur, bahwa efektivitas berbagai program penanganan dan peningkatan kemampuan hidup anak dan remaja yang memiliki kebutuhan khusus akan sangat tergantung pada peran serta dan dukungan penuh dari keluarga dan masyarakat (Hallahan dan Kauffman, 1988; Hardman, dkk., 2002; Heward, 2003; dan Hunt dan Marshall, 2005).

Meskipun program pendidikan bagi individu berkebutuhan khusus telah dirancang sesuai dengan jenis hambatan yang dialami, namun Hunt dan Marshall (2005) telah menegaskan bahwa penguasaan berbagai kemampuan pada anak akan mencapai kemajuan yang lebih baik jika pada prosesnya terdapat kolaborasi antara orangtua dengan para profesional praktisi pendidikan. Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh anak di sekolah akan lebih bertahan dan dikuasi dengan baik apabila mereka juga dapat melatihnya di rumah atau di luar lingkungan sekolah dengan bantuan dan arahan dari orangtua.

Melihat penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa partisipasi orangtua dalam program pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus adalah hal penting yang harus selalu diupayakan. Hanya saja sampai saat ini masih belum ada data yang menunjukkan bahwa seluruh orangtua dari anak-anak berkebutuhan khusus diIndonesiatelah memahami hal tersebut serta berupaya memenuhinya. Bahkan boleh jadi belum semua orangtua dari anak-anak berkebutuhan khusus menyadari akan pentingnya keterlibatan mereka dalam pendidikan anak-anaknya.

Seperti dari hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan oleh Hendriani (2006), tidak sedikit dari orangtua yang beranggapan bahwa dengan memasukkan anak ke sekolah luar biasa yang sesuai dengan keterbatasannya berarti upaya mereka sudah dapat dikatakan cukup. Selebihnya sekolahlah yang bertanggung jawab untuk mendidik dan mengajarkan berbagai ketrampilan hidup bagi anak-anaknya. Mereka belum memahami bahwa kurangnya perhatian dan dukungan orangtua akan membuat hasil proses pendidikan di sekolah menjadi tidak maksimal. Tidak semua orangtua menyadari bahwa pendidikan di sekolah luar biasa bukanlah jaminan bagi perkembangan kemampuan anak-anak berkebutuhan khusus.

Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk memaparkan tentang bagaimanaketerlibatan orangtua dalam pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus beserta faktor-faktor yang mempengaruhi.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan mengunakan metode kualitatif yang bertujuan untuk memberikan gambaran atas fenomena atau permasalahan yang diangkat, yaitu tentang keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus. Subjek dipilih dengan pendekatan purposif, yaitu menggunakan beberapa karakteristik atau kriteria tertentu  (Poerwandari, 1998). Subjek yang dimaksud adalah empat pasang orangtua dari anak-anak yang merupakan penderita tunanetra, tunarungu, keterbelakangan mental, dan kesulitan belajar. Keempat anak berkebutuhan khusus tersebut masih menempuh pendidikan di Sekolah Luar Biasa yang sesuai dengan jenis keterbatasannya, memiliki saudara kandung yang normal dan seluruh subjek beserta anaknya bertempat tinggal di Surabaya. Adapun pengambilan datanya dilakukan dengan menggunakan wawancara.

 HASIL PENELITIAN

Tidak semua orangtua dalam penelitian ini memiliki keterlibatan secara penuh terhadap pendidikan anak berkebutuhan khusus. Diantara keempat subjek, subjek 2 (orangtua dari anak tunarungu) adalah orangtua yang memiliki keterlibatan paling aktif terhadap pendidikan anak. Sementara tiga subjek yang lain menunjukkan perilaku berbeda, yang dalam sejumlah aktivitas justru lebih banyak menyerahkan pendampingan proses belajar anak kepada orang lain, seperti pembantu rumah tangga. Salah satu dasar pembedaan kategori keterlibatan tersebut adalah pernyataan Hardman, dkk. (2002); Heward (2003); dan Hunt dan Marshall (2005) bahwa keterlibatan yang diharapkan dari orangtua tidak hanya terbatas pada pemilihan lembaga pendidikan yang sesuai dan pemantauan hasil akhir pendidikan, akan tetapi juga dengan memantau seluruh proses belajar anak serta aktif mengambil bagian di dalamnya, dari waktu ke waktu.

 Tabel berikut ini menyajikan rangkuman keterlibatan keempat subjek terhadap pendidikan anak berkebutuhan khusus:

Tabel 1.

Keterlibatan Orangtua dalam Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

NO

BENTUK KETERLIBATAN

S1

S2

S3

S4

1.

Mencari informasi seputar pendidikan anak berkebutuhan khusus

2.

Menyusun rencana pendidikan anak

3.

Ikutserta aktif dalam program-program sekolah

4.

Aktif menjalin komunikasi dengan pihak sekolah untuk mendapatkan pemahaman tentang cara-cara membantu anak belajar

5.

Melakukan pendampingan aktivitas belajar di luar lingkungan sekolah

6.

Mengembangkan bakat/potensi anak

7.

Mengajarkan tentang agama

8.

Mengajarkan and melatih ketrampilan social

9.

Mengarjakan baca tulis sebelum masuk pendidikan formal

Keterangan:
S1        : Orangtua anak tunanetra
S2        : Orangtua anak tunarungu
S3        : Orangtua anak dengan keterbelakangan mental
S4        : Orangtua anak dengan kesulitan belajar

Dari tabel tersebut nampak bahwa subjek 2 memenuhi kesembilan bentuk keterlibatan yang muncul dari data penelitian. Subjek 4 memenuhi lima dari sembilan bentuk keterlibatan, subjek 3 hanya memenuhi tiga dari sembilan bentuk keterlibatan, dan terakhir subjek 1 dengan dua bentuk keterlibatan.

Terdapat empat faktor yang mempengaruhi keputusan orangtua tentang keterlibatannya terhadap pendidikan anak berkebutuhan khusus, yaitu: (1) Pemahaman tentang pentingnya peran orangtua terhadap pendidikan anak; (2) Harapan terhadap anak berkebutuhan khusus; (3) Persepsi terhadap keterbatasan anak; dan (4) Persepsi terhadap sekolah bagi anak berkebutuhan khusus. Pada faktor pertama, subjek 1 dan 3 memiliki pandangan bahwa sekolah/pendidikan formal bukan hal yang penting dan menentukan bagi keberhasilan seseorang dalam hidupnya, terlebih bagi anak berkebutuhan khusus. Sekolah luar biasa hanya sebuah lembaga pendidikan yang bersifat formalitas bagi anak berkebutuhan khusus, karena ijazah yang diberikan kepada muridnya tidak benar-benar berdasarkan kemampuan, melainkan kebijaksanaan sekolah. Dalam hal ini orangtua menyangsikan bahwa pendidikan di sekolah luar biasa dapat meningkatkan kemampuan anak hingga menyamai kemampuan anak normal sebayanya. Hal ini berbeda dengan subjek 2 dan 4 yang meyakini pentingnya peran pendidikan formal untuk membantu anak meningkatkan kemampuannya secara lebih optimal, terlebih orangtua dan anggota keluarga yang lain adalah orang-orang yang awam dalam penanganan anak berkebutuhan khusus.

Pada faktor kedua, subjek 2 mempersepsikan keterbatasan bukan sebagai penghalang bagi anak untuk terus maju, mengembangkan diri dan meraih sukses. Karenanya subjek 2 tidak pernah berusaha untuk menyembunyikan ataupun sekedar menghalangi interaksi anak di lingkungannya. Bagi mereka, anak yang mengalami kebutuhan khusus masih bisa melakukan berbagai hal yang biasa dilakukan oleh orang normal, termasuk berbicara, dan pada dasarnya tidak ada manusia yang cacat, karena jika diupayakan dengan serius, mereka yang memiliki keterbatasan apapun akan tetap hidup dan beraktivitas seperti halnya orang normal. Serupa dengan subjek 2, subjek 4 memandang bahwa anak dengan keterbatasan masih memiliki kemampuan lain yang dapat ditonjolkan. Sementara itu subjek 1 dan 3 berpendapat bahwa keterbatasan kemampuan yang dimiliki oleh anak berkebutuhan khusus akan sulit untuk ditingkatkan sekalipun penderitanya mengikuti pendidikan formal pada level apapun. Perbedaan persepsi yang terjadi diantara keempat subjek tersebut muncul karena keterbatasan/kebutuhan khusus pada dasarnya adalah sebuah konstrak sosial yang dipandang secara beragam oleh tiap-tiap keluarga (Hunt dan Marshall, 2005).

Pada faktor ketiga, hanya 2 subjek  yang menyatakan harapannya terhadap anak berkebutuhan khusus, yaitu subjek 2 dan 3. Subjek 2 memiliki harapan bahwa anak mereka yang tunarungu harus dapat hidup mandiri dan memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan anak-anak normal. Sedangkan subjek 3 memiliki harapan bahwa anak mereka yang terbelakang mental juga harus mampu mengurus dirinya sendiri dan tidak merepotkan orang lain.

Pada faktor keempat, pemahaman tentang pentingnya peran orangtua terhadap perkembangan anak lebih banyak ditunjukkan oleh subjek 2 dan 4. Kedua subjek menyadari bahwa dukungan keluarga adalah hal yang utama bagi perkembangan dan keberhasilan hidup anak-anak kebutuhan khusus. Yang dimaksud di sini bukan hanya orangtua, tetapi juga saudara dan kerabat yang lain. Sementara untuk subjek 1 dan 3, orangtua lebih banyak menekankan sikap pasrah terhadap kondisi anak. Sikap ini terkait dengan keyakinan mereka bahwa kemampuan anak berkebutuhan khusus akan sulit untuk dikembangkan dengan cara apapun.

Sebagai rangkuman hasil, skema yang terdapat pada Gambar 1 berikut menunjukkan alur keterlibatan orangtua terhadap pendidikan anak berkebutuhan khusus yang dirumuskan berdasarkan data penelitian yang telah diperoleh.

Gambar 1. Alur Keterlibatan Orangtua Terhadap Pendidikan

DAFTAR PUSTAKA 

Buchori, M. 2006. Pendidikan Gagal Tanpa Partisipasi Orangtua. BASIS, Nomor 03-04, Tahun ke-55, Maret-April 2006, hlm: 13-20.

Hallahan, D.P. and Kauffman, J.M. 1988. Exceptional Children. New Jersey: Prentice Hall, Inc.

Hardman, M.L., Drew, C.J., and Egan, M.W. 2002. Human Exceptionality. Boston: Allyn and Bacon, A Pearson Education Company.

Hendriani, W. 2006. Penerimaan Keluarga Terhadap Individu yang Mengalami Keterbelakangan Mental. Laporan Penelitian (Tidak Diterbitkan). Surabaya: Fakultas Psikologi Unair.

Heward, W.L. 2003. Exceptional Children, An Introduction to Special Education. New Jersey: Merrill, Prentice Hall.

Hunt, N. and Marshall, K. 2005. Exceptional Children and Youth.Boston: Houghton Mifflin Company.

Poerwandari, E.K. 1998. Pendekatan Kualiatif dalam Penelitian Psikologi. Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi, Fakultas Psikologi UniversitasIndonesia.

Sindhunata. 2006. Anak Hanyalah Beban. BASIS, Nomor 03-04, Tahun ke-55, Maret-April 2006, hlm: 3.

Anak Berkebutuhan Khusus Diterima di Sekolah Umum  www.pikiran-rakyat.com. 31 Mei 2003. Diakses tanggal 21 November 2006.

Pendidikan Anak Cacat yang Terlupakan. www.suarapembaruan.com. 5 Februari 2005.Diakses tanggal 21 November 2006.

Reformasi Kebijakan Pendidikan Luar Biasa. http://artikel.us/nurkolis2.html. Diakses tanggal 21 November 2006.

(Catt: Hasil Riset Tahun 2006; dipresentasikan dalam International Conference on Education, Universiti Brunei Darussalam, Tahun 2007)

Iklan

8 thoughts on “Keterlibatan Orangtua Dalam Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

  1. Bu Wiwin,. Terima Kasih Banyak sudah mau berbagi hasil penelitiannya.. Matur Suwun Sanget 😀 Sangat membantu sekali ^^

  2. ass.
    saya Revitha mahasiswi jurusan Psikologi semester akhir yang sedang melakukan penelitian guna peenuhan Skrispsi mengenai keterlibatan orang tua (parental involvement) yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Sekiranya saya ingin berdiskusi dengan bu wiwin, bolehkah?
    Terimakasih, wass.

  3. bu wiwin, saya mau minta bantuan.
    kalo bab 3 tentang dukungan orang tua terhadap kepatuhan anak usia sekolah untuk mejalankan perannya isinya apa saja ya kiranya 🙂 makasih bu.
    by avix

    • Hmm… Mas Avix (eh, mas atau mba’ ya? hehehe…), Bab 3 penulisan skripsi/tesis bukankah isinya tentang metode penelitian? Kalau seputar metode penelitian ya mulai dari tipe/pndekatan penelitiannya, definisi operasional variabel penelitian (kuantitatif), subjek penelitian, teknik pengambilan data hingga analisis data 🙂

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s