Eksplorasi Faktor-Faktor Protektif Resiliensi pada Keluarga Khusus

Pada setiap budaya dan lingkungan masyarakat, keluarga memiliki struktur yang mungkin saja berbeda dan terbentuk dengan cara-cara yang juga beragam. Namun demikian sebagian besar keluarga akan memenuhi fungsi yang serupa, seperti tempat pengasuhan anak, sumber pemenuhan kebutuhan pokok, pemenuhan dukungan emosional, sebagai wadah sosialisasi anggotanya, serta tempat membangun dan mempertahankan tradisi serta hal-hal yang terkait dengan pendelegasian tugas dan tanggung jawab. Hal ini membuat keluarga memiliki peran yang sedemikian besar terhadap kondisi manusia dan masyarakat pada umumnya.

Segala sesuatu yang terjadi dalam keluarga akan mempengaruhi proses tumbuh kembang seseorang. Jika dalam keluarga tidak terdapat relasi yang harmonis, maka langsung maupun tidak kondisi tersebut akan berdampak kurang baik bagi perkembangan psikologis individu di dalamnya. Sebaliknya jika keluarga berada pada kondisi yang baik, dimana setiap orang dapat berkomunikasi secara terbuka dan berinteraksi dalam suasana yang hangat, maka atmosfir yang penuh dukungan ini akan semakin mendorong perkembangan ke arah yang lebih positif.

Olson dan DeFrain (2003) telah mengemukakan bahwa keluarga yang kondusif bagi kehidupan individu adalah keluarga yang memiliki resiliensi tinggi. Keluarga dengan tipe ini akan mampu menghadapi krisis dengan cara-cara yang positif, terlebih dalam perjalanannya memang tidak ada keluarga yang sama sekali terbebas dari persoalan. Resiliensi didefinisikan oleh Luthar, dkk (2000 dalam Kalil 2003) sebagai sebuah proses dinamis yang mencakup adaptasi positif dalam konteks situasi yang sulit, mengandung bahaya maupun hambatan yang signifikan. Lebih fokus dalam konteks keluarga, konsep resiliensi mendeskripsikan kondisi keluarga yang mampu beradaptasi dan berhasil melalui stress, baik di saat sekarang maupun waktu-waktu berikutnya (Hawley dan DeHaan, 1996, dalam Kalil, 2003). Keluarga yang resilien akan merespon secara positif setiap kesulitan dengan menggunakan cara-cara yang unik, sesuai konteks, tingkat permasalahan, serta dengan mempertimbangkan sudut pandang seluruh anggota keluarga.

Resiliensi terbentuk dari interaksi antara faktor-faktor resiko dengan faktor-faktor protektif (Windle, 1999, dalam Kalil, 2003). Faktor resiko adalah segala sesuatu yang berpotensi untuk menimbulkan persoalan atau kesulitan, sedangkan faktor protektif adalah hal-hal yang memperkuat individu atau keluarga dalam menghadapi faktor-faktor resiko. Adaptasi yang baik dan berhasil terhadap suatu permasalahan mencerminkan kuatnya pengaruh faktor protektif yang dimiliki. Mengingat setiap keluarga memiliki kondisi, karakter, dan kebiasaan hidup yang berlainan, maka hal ini membuat faktor-faktor protektif yang dimiliki oleh suatu keluarga akan berbeda dengan keluarga yang lain, sekalipun antar keluarga tersebut menghadapi sejumlah faktor resiko yang serupa.

Di masyarakat, tidak semua keluarga memiliki anggota yang seluruhnya berada pada kondisi perkembangan normal. Beberapa diantaranya justru memiliki anggota berkebutuhan khusus, atau yang biasa dikenal dengan istilah penyandang cacat. Bagi keluarga-keluarga tersebut, kekhususan yang dialami oleh salah satu atau bahkan mungkin beberapa orang anggotanya merupakan satu faktor resiko yang harus dihadapi. Namun hal ini bukanlah satu-satunya faktor resiko. Jumlah anak berkebutuhan khusus yang dari waktu ke waktu cenderung meningkat pada kenyataannya belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan pemahaman masyarakat tentang kondisi penyandangnya, sehingga masyarakat (termasuk di dalamnya orangtua) tidak jarang memberikan perlakuan kurang tepat yang justru semakin menghambat perkembangan kemampuan mereka.

Di banyak tempat, baik secara langsung maupun tidak, individu berkebutuhan khusus ini cenderung ‘disisihkan’ dari lingkungannya. Penolakan terhadap mereka tidak hanya dilakukan oleh individu lain di sekitar tempat tinggalnya, namun beberapa bahkan tidak diterima oleh sanak saudaranya sendiri. Beragam perlakuan pun dirasakan, mulai dari penghindaran secara halus, penolakan secara langsung, sampai dengan sikap-sikap dan perlakuan yang cenderung kurang manusiawi. Fenomena ini menambah deretan faktor resiko yang harus dihadapi oleh keluarga-keluarga khusus.

Berdasarkan paparan latar belakang tersebut, berbagai faktor protektif yang dimiliki oleh keluarga khusus merupakan hal yang penting untuk digali. Eksplorasi faktor-faktor protektif resiliensi ini akan membantu keluarga khusus untuk menemukan kekuatannya dalam menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan, baik di lingkup kecil keluarga maupun lingkungan yang lebih luas, dengan cara-cara yang tepat dan dengan tetap mempertahankan keutuhan serta relasi yang harmonis antar anggotanya. Dengan demikian, keluarga akan menjadi tempat yang benar-benar kondusif dan suportif bagi perkembangan dan kesejahtaraan individu berkebutuhan khusus.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Subjek terdiri dari lima keluarga khusus, yang terdiri dari: keluarga yang memiliki anak terbelakang mental, keluarga dengan anak tunarungu, keluarga yang memiliki anak tunanetra, keluarga dengan anak yang mengalami kesulitan belajar, dan keluarga dengan orangtua tunadaksa. Seluruh keluarga bertempat tinggal di Surabaya. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dengan pedoman umum dan catatan lapangan. Adapun data yang telah tergali akan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis tematik.

Hasil penelitian ini menunjukkan adanya delapan faktor protektif yang dimiliki keluarga khusus dalam mencapai resiliensi, yaitu: (1) Kemandirian, yaitu kemampuan keluarga untuk mengatasi setiap persoalan atau kesulitan tanpa tergantung pada bantuan orang ataupun pihak lain; (2) Kesabaran dan keikhlasan saat menjalani kesulitan yang didefinisikan sebagai sikap positif keluarga saat menghadapi persoalan, yang memunculkan kemampuan bertahan dan menjalani setiap kesulitan serta kondisi-kondisi yang penuh tekanan tanpa rasa putus asa ataupun rendah diri; (3) Kegigihan dalam berusaha, yaitu sikap keluarga yang tidak mudah menyerah dalam menghadapi kesulitan maupun mencari jalan keluar dari setiap persoalan yang dihadapi; (4) Keluarga yang komunikatif, yang terbiasa untuk berbicara dengan terbuka, saling berbagi, mendiskusikan, dan mencari solusi bersama atas berbagai hal yang dihadapi oleh keluarga maupun anggota-anggotanya; (5) Kebersamaan dan sikap saling dukung dalam keluarga; (6) Dukungan dari keluarga besar, yaitu adanya rasa kepedulian dan dukungan dari keluarga asal kedua orangtua terhadap segala hal yang terjadi dalam keluarga; (7) Keaktifan mengakses informasi dan keterbukaan menyikapi perkembangan situasi, yang diartikan sebagai sikap dan kebiasaan keluarga untuk aktif mengakses perkembangan informasi terbaru tentang hal-hal yang terjadi di lingkungannya ataupun yang menyangkut persoalan tertentu yang sedang dihadapi, serta berusaha mengumpulkan dan mengklarifikasi data-data sebelum menyimpulkan dan mengambil keputusan tertentu; dan (8) Orangtua yang tidak bersebarangan dalam menyikapi segala sesuatu.

Kedelapan faktor protektif tersebut selanjutnya akan membantu keluarga untuk tetap bertahan ketika menghadapi berbagai macam stresor selama perjalanan hidupnya. Faktor protektifakandimanfaatkan secara aktif oleh keluarga, baik untuk mengurangi resiko secara langsung maupun dengan cara berinteraksi dengan resiko terlebih dahulu.

Kata  Kunci: Faktor Protektif, Resiliensi, Keluarga Khusus

(Catt: Hasil Riset Tahun 2008; Versi Bahasa Inggris Dipublikasikan dalam Proceeding International Conference on Resilience, UI, 2011)

Iklan

4 thoughts on “Eksplorasi Faktor-Faktor Protektif Resiliensi pada Keluarga Khusus

  1. Assalamualaikum…salam kenal mbak, saya Harison, mahasiswa psikologi smester akhir yg sedang menyusun skripsi. Dalam skripsi saya, saya ingin meneliti hubungan antara religiusitas dan resiliensi penyintas. Saya sedang mencari bahan untuk skripsi saya dan kebetulan saya melihat blog mbak. Bolehkah saya meminta bahan tentang resiliensi yang mbak punya? ini alamat email saya caesarz_harrison@yahoo.com. Saya akan sangat berterimakasih dan senang sekali jika mbak mau membantu saya. 😀

  2. Halo Harrison, senang juga berkenalan denganmu 🙂
    Jawaban pertanyaannya secara tidak langsung sudah ada di tulisan saya “Tentang Literatur Resiliensi” ya..
    Sukses untuk skripsinya…

  3. assalamu’alaykum bu, saya nuramin mahasiswa psikologi yang sedang menyusun skripsi mengenai nrimo sebagai dimensi psikokultural resiliensi. ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan kepada ibu. saya sangat berharap ibu bersedia berkorespondensi dengan saya via email, ini alamat email saya noura_mien@yahoo.com
    terima kasih bu sebelumnya.

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s